Jumat, 12 November 2010

Yeah, My Name is Freedom

BERHATI-HATILAH menggunakan istilah ‘bebas dan bertanggungjawab’  karena menurut Rudolf Steiner, seorang pemikir asal Jerman kelahiran Austria, secara instinktif, diartikan sebagai tanggungjawab yang didasarkan pada otoritas di luar dirinya (peraturan, teks, ideologi, kepercayaan, nilai-nilai kelompok/masyarakat/suku dsb), karena istilah itu rawan manipulasi.
 
Sebenarnya saya tak sengaja ketemu pemikiran si Rudolf ini. Ketika sedang mencari bahan untuk ngeblog tentang nama yang saya pakai sebagai judul blog, saya ketemu buku lawas ketika sempat ikut ekstension filsafat beberapa tahun silam.  Namanya berserakan di internet. Saya tertarik dengan pemikirannya tentang kebebasan.

Sumbangan Rudolf Steiner  mengenai filsafat kebebasan menjadi sangat berguna untuk membantu kita memahami kebebasan.  Gagasannya saya ringkas sebagai berikut: Pertama Rudolf menunjuk adanya dua realita: yaitu manusia dan di luar manusia. Manusia dilengkapi kemampuan yang disebut sensory perceptions untuk mengakses realita di luar dirinya yang beragam (alam, tumbuhan, binatang, orang lain). Persepsi yang tersensor ini  ternyata toh dipengaruhi oleh tujuh instansi/level motives yaitu: reflexes, drives, desires, motifs, wishes, intentions, and commitments.

Dengan kombinasi berbagai level itu, manusia memproduksi berbagai persepsi yang tersensor untuk memaknai dunia luar dan dirinya, istilahnya consciousness (tolong jangan diterjemahkan menjadi “kesadaran”).  Karena tersensor, celakanya atau untungnya, persepsi itu menghasilkan sebuah dunia pemahaman yang penuh kontradiksi, dualitas, polarisasi: baik-buruk, benar-salah, cantik-jelek dsb. Semakin berargam level motif yang memasuki sebuah fenomena, semakin ruwet polarisasi persepsi itu. 

Kedua, moral imagination merupakan hasil kerja yang seolah berada dalam hati dan budi individual. Selanjutnya Rudolf mengamati peran ego, yang mempunyai “kehendak untuk bertindak” dalam diri manusia untuk mempengaruhi dunia di luar dirinya, berpangkal dari imaginasi moral yang yang sudah dimilikinya. Ego yang hendak mengkomunikasikan dirinya itu disebutnya self-awareness (lagi, jangan diterjemahkan dengan kata “kesadaran”). 

Apakah teori di atas sudah menjawab pertanyaan tentang kebebasan? Yang paling tepat mungkin adalah memberi jaminan kesempatan tiap individu membangun imaginasi moralnya yang makin lama-makin lengkap. Peraturan harus dibuat untuk mempertahankan ruang situasi kebebasan itu, dan bukannya menutupinya.

Bagaimana dengan Anda?

(thanks to: kang pitoyo adhi di belanda untuk pencerahannya)

Setara, Sekasta atau Seenaknya?

ini kisah nyata dan sering ketemu. dalam perjalanan hidup, kita pasti akan menemukan banyak tipikal manusia. ada yang baik hati, jujur, tapi tak sedikit yagn culas, sok baik tapi “menginjak” di belakang, atau memang dasarnya jahat dan selalu tidak suka dengan kebaikan orang.

aku banyak bersua dengan model seperti itu. pertama,  setara. Ini manusia yang menghargai manusia lain dengan  asik. Mungkin sesekali kepleset, tapi tipikal inilah yang biasanya ramah, bersahaja, tidak pamer dan tulus. Bukan karena urusan kepentingan semata. karena saya wartawan dan situ narasumber [yang mungkin memang amat dibutuhkan]. biasanya diluar urusan pekerjaan, tipikal ini tetap welcome as a friend. sayangnya, tipikal ini tak terlalu banyak.

yang kedua, sekasta. entah kenapa, saya paling banyak menemukan tipe ini. berteman, beraikan, bersahabat, karena sekasta. karena merasa punya posisi ekonomi yang lebih mapan, merasa punya kedudukan yang potensial untuk menjadi penindas.  tipe ini biasanya selalu ingin dihormati oleh siapapun yang dianggap kastanya berbeda [baca: lebih rendah].

sering membuat saya tertawa bodoh, emosi dan kadang mengumpat. repotnya, tipe ini paling banyak berada di sekitar saya.

Ketiga tipe seenaknya. Ini bisa masuk kolaborasi tipe pertama dan kedua. tapi mereka biasanya tak terlalu peduli dengan semua kerepotan kasta itu. mereka bisa seenaknya, tanpa melihat apa yang dlakukan merugikan atau menguntungkan. yang penting senang. orang ini moody, karena bisa menyenangkan, tapi bisa jadi sangat menjengkelkan. untungnya, mereka biasanya tulus.

saya? selalu berusaha menjadi egaliter dan equal….

spiritualitas dimulai, ketika agama berakhir?

spiritualitas dimulai, ketika agama berakhir?

BANYAK orang yang mengaku beragama, tapi dia tidak punya spiritualitas dan  pemahaman tentang agama itu sendiri. mungkin termasuk saya, anda, atau malah ternyata kita semua berada pada posisi itu juga.

mungkin kita harus belajar dari sudut pandang lain. kita harus paham dulu, Tuhan sebenarnya tidak bisa didapatkan dalam bentuk apapun, nama, agama, tempat pemujaan atau upacara-upaacra. itu hanya simbolisasi Tuhan. Karena itu DIA harus ditemukan di suatu tempat di dalam hati manusia.

agama seperti sekolah dimana kita memperoleh beberapa pemikiran dasar tentang Tuhan, keperluan untuk hidup bermoral, cara-cara pemujaan dan sebagainya. Tuhan adalah sosok yang sangat halus jauh melebihi pikiran dan perasaan manusia yang dapat dicapai. Tuhan bisa dirasa melalui pengalaman manusia.

oleh karena itu dalam mempraktekkan spiritual, kita mencari untuk mengalami yang NYATA tersebut di atas. Untuk ini kita berharap mendapatkannya melalui proses dimana makin lama makin mencairkan dan melarutkan sifat keakuan kita apapun nama, bentuk dan kualitasnya dan mengosongkan kesadaran kita.

Jadi ketika kita menjadi seperti Dia di dalam alam kita, kita mulai mengalami atau merasakan menjadi satu dengan Dia yang ada di dalam diri kita. dalam istilah jawa 'manunggaling kawulo lan gusti' yang dalam pemahaman sempit saya, adalah munculnya kesadaran sipiritual tentang keberadaan Tuhan dalam diri kita.

pada dasarnya pemahaman akan Tuhan ini menghidupkan kembali hubungan antara kita dengan Tuhan yang ada di dalam diri kita. Dimana hubungan ini memberikan rasa keTuhanan yang alami dan kekuatan untuk menahan ego/identitas kita, yang akan terhapus secara perlahan-lahan. Tuhan yang hadir di dalam diri kita mulai terwujud dalam pikiran dan tindakan kita.

mungkin yang perlu diperjelas, kita tidak sedang me-transformasi Tuhan dalam ujud kita, tapi lebih mentransformasi sifat-sifat Tuhan dalam hidup kita. dan pengalaman itu, memang tidak bisa dilakukan seketika, perlu waktu, proses dan pemahaman diri tentang tuhan itu sendiri.

Sabtu, 06 November 2010

SATORI In LOVE

SAYA sedang jatuh cinta, dan rasanya menyenangkan. Saya bisa mengerti, ketika seseorang jatuh cinta, dia akan banyak tersenyum. Tapi saya juga pernah merasakan putus cinta dan percayalah, itu bukan hal yang ingin Anda rasakan. Impact-nya bisa bermacam-macam. Bahkan tidak sedikit yang memilih kembali jadi abu ketimbang melepaskan dewa amor itu.

Saya tidak akan bicara dewa amor itu. Cinta, istilah latinnya adalah amor dan caritas. Menurut Plato, semua cinta adalah cinta akan keindahan. Menurut filsuf Yunani ini, cinta bentuknya sempurna. Kemudian berkembang dan punya banyak pemahaman. Salah satu yang cukup melankolis adalah pendapat Sigmund Freud yang mengatakan bahwa eros, yang ditafsir sebagai pemenuhan seksual, merupakan inti dari apa yan dinamakan cinta. Konon sejarah manusia merupakan pergumulan antara eros dan thanatos [naluri kematian].

Cinta juga membuat banyak manusia seolah-olah kuat dan seolah-olah berani. Padahal mungkin mereka rapuh dan merepih asa yang tak berkesudahan. Berapa banyak manusia yang memilih mati karena cinta? Bunuh diri rasanya jadi jamak.

Tahukah Anda, bunuh diri itu merupakan suatu pelanggaran yang  serius terhadap cinta diri yan sejati? Sebab ketika seseorang melakukannya, seseorang memustahilkan pencapaian tujuan akhir hidupnya, yaitu kebahagiaan abadi. Seseorang yang bunuh diri, hanya tampaknya saja berani. Padahal sebenarnya, dia pengecut.

Saya melihat jatuh cinta, mencintai, dicintai, sebenarnya adalah pencerahan atau dalam bahasa filsafatnya disebut satori. Pencerahan cinta sebenarnya mencakup kembali kepada hakikat asli dan hubungan riil dengan dunia dan manusia. Pencerahan cinta itu sebuah lorong panjang yang bisa ditemukan lewat pencairan panjang juga.

Saya bisa mengerti seseorang yang memilih tidak melanjutkan hubungan cintanya karena tak juga menemukan sisi philia dan pencerahan dari hubungan itu. Tapi saya juga bisa memahami mengapa manusia begitu kekeuh mempertahankan cinta.

Sekali lagi, cinta itu keindahan dan saya selalu ingin menjadi indah…


Mencintaimu Seperti DERAS HUJAN

PERNAHKAH KAMU MEMPERHATIKAN hujan yang turun deras? Hujan itu tak sempat berkompromi dengan lokasi dimana dia bakal tumpah. Tak peduli apakah airnya akan menggenangi kemudian memberi limpahan banjir yang tak berkesudahan. Sungguh, hujan itu tak peduli.

Aku hanya beranalogi, tentang sebuah rasa, perasaan, asa dan [mungkin] pengharapan. Aku hanya mencoba menyelusup pada ruang batin yang tak pernah terpenjara oleh kata-kata. Disana, biasanya terangkum satu kejujuran yang menjadi puncak dari moralitas manusia. Ketika menyapa cinta, tak akan kau temui sejumput serapah. Ketika menemukan cinta, tak bakal kau temui selasar punai yang bersuara busuk.

Dalam tetralogi “Bumi Manusia"-nya Pramoedya Ananta Toer, melalui percakapan romantis tokoh utamanya kepada kekasihnya, Minke. Pram menulis;

“Cinta itu indah Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. Sungguh indah, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus menghadapi akibatnya. Lagi pula, tak ada cinta yang muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dari langit”.

Tak ada cinta yang muncul secara mendadak, ia bukan batu yang tiba-tiba saja jatuh dari langit. Bagaimanapun ia masih ada dalam variable ruang, maka kehadirannya membutuhkan sebab.

Banyak motif dan alasan mengapa laki-laki, misalnya, jatuh hati kepada seorang perempuan. Begitu sebaliknya. Jika disebutkan motif atau alasan tersebut maka yang muncul pasti beragam. Tergantung kebutuhan masing-masing orang.

Dan ilustrasi hujan itu menjelaskan kepada kita, rasa apapun itu, ternyata tak pernah dibatasi, dikerangkeng, dipenjara, ditembok, oleh apapun. Dia bisa datang dimana, kapan saja dan oleh siapa saja.

Mungkin kita bisa belajar dari sebuah diary kecil:
Mencintai angin harus menjadi suit? Mencintai air harus menjadi ricik? Mencintai gunung harus menjadi terjal? Mencintai api harus menjadi jilat? Mencintai cakrawala harus menebas jarak? 
 
 
 
Aku mencintaimu [seperti] deras hujan...

Menjadi MALAIKAT Tanpa SAYAP

BAGAIMANA rasanya kehilangan waktu bersama orang yang kita cintai? Waktu bermain, sharing, bercengkerama dan apapun yang biasa dilakukan bersama. Pedih dan menangis mungkin. Apalagi kalau waktu itu hilang karena perbuatan kriminal yang tidak pernah kita duga.

Suatu pagi yang cerah, penulis menemukan satu kisah kehilangan itu. Oprah Show di salah satu televisi swasta "menemukan" seorang perempuan, seorang ibu dan seorang single parent bernama Jackie Millar, sebagai bintang tamu. Buat penulis, dia seperti "malaikat" berwujud manusia.

Ketika sedang meninap di rumah kawannya, dua remaja berandalan bernama Craig dan Joss yang awalnya berniat mencuri mobilnya, menembak kepala Jackie dari jarak dekat, setelah sebelumnya kepalanya ditutup dengan bantal. Jackie yang penggemar fotografi itu, tidak tewas, tapi benar-benar harus memulai hidupnya dari nol.

Jackie lumpuh sebelah, harus belajar menelan, mengunyah dan sensor motoriknya agak terganggu yang membuatnya harus bicara pelan-pelan. Satu yang pasti, mujizat itu ada ketika Jackie bisa bertahan hidup sampai usianya sekarang [ketika ditembak umurnya sekitar 45 tahun, dan kini 57 tahunan].

Bukan kisah itu sebenarnya yang luarbiasa. Dua tahun setelah menjadi "normal" lagi, Jackie melakukan hal yang mengejutkan. Dia mengunjungi penembaknya yang dipenjara. "Aku terkejut dan takut, karena merasa dia akan memamki dan menendangku, hal yang memang menjadi haknya,' kata Craig, yang ikut diwawancara lewat telekonference video dari penjara.

Ternyata tidak, meski ketika ditemui tidak berani menatap dan hanya menunduk, Craig 'salah prediksi' tentang sikap Jackie. Ibu dua anak itu memeluknya, memegang tangannya dan memaafkan semua yang pernah dilakukan Craig kepadanya. "Aku seperti punya masa depan lagi ketika Jackie memaafkan akud dengan tulus," kata Craig lagi.

Yup. Jackie memang memaafkan. Malah seperti kata Chad, anak sulungnya, ketika siuman dari penembakan itu, hal pertama yang dilakukannya adalah memberikan maaf kepada penembaknya. "Aku seperti melihat anakku sendiri membuat pengakuan telah melakukan hal buruk," kata Jackie ketika ditanya sikapnya itu.

Satu karya yang luarbiasa bukan? Memaafkan orang yang nyaris membunuhnya. Pendapat Jackie sederhana, ketika kita memendam rada marah dan dendam kepada seseorang, sebenarnya kita menyimpan racun yang 'membunuh' diri kita pelan-pelan. "Saya harus melanjutkan hidup dan yang saya lakukan adalah memaafkan dia," ucap Jackie yang juga menjadi buta akibat penembakan itu.

Bagaimana dengan kamu, saya dan kita? Jujur saja, saya pun kadang-kadang memilih menyimpan 'racun' dalam diri saya, sulit untuk memaafkan orang yang menyakiti dan membuat saya sebal. Bahkan keyakinan yang saya anut pun jelas-jelas mengatakan, 'kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri' tapi tetap saja keukeuh menyimpan 'racun' itu. Tapi Jackie Millar membuat saya malu. Dia dengan cepat memaafkan penembaknya dan merasa hidupnya makin tenteram.

Banyak hal yang membuat kita buta, meski kita melihat. Tapi Jackie melihat dengan terang, justru ketika menjadi buta. Meminjam apa yan dikatakan Mahatma Gandhi, "orang suci" dari India, "Orang lemah tak pernah bisa memaafkan, karena mengucapkan kata maaf adalah atribut orang kuat!"

Rabu, 03 November 2010

Merayakan Keberagaman ala AKSAN SJUMAN & TITI HANDAYANI

KEBERAGAMAN dan ke-bhineka-an, membuat pasangan drummer Sri Aksana Sjuman dan Titi Handayani Rajo Bintang menemukan cinta. Dan kemudian menjadi spirit dalam mendidik dan membesarkan anaknya kelak.  “Kita maunya, anak kita nanti bisa merasakan indahnya sebuah perbedaan,” kata dua musisi yang memilih jazz sebagai basic bermusiknya.



JATUH CINTA memang sejuta rasanya. Hal itu dirasakan oleh Aksan ketika mengajar seorang murid bernama Titi. Ketika itu, mantan drummer Dewa 19 ini adalah pengajar di salah satu sekolah musik, dan Titi adalah seorang muridnya.

“Dia kelihatan menarik, smart dan nyambung dengan apa yang saya omongkan,” celetuk anak pasangan sutradara Sjuman Djaja dan pebalet, Farida Oetoyo ini sembari tersenyum.

Aksan mengaku, dia memang jatuh cinta duluan. “Tapi ketika itu saya gengsi untuk ngaku,” ujarnya buka rahasia.  Masalah lain, Titi ketika itu –Aksan menyebut tahun 2000an—masih duduk di bangku SMA, sementara Aksan sudah ngetop sebagai drummer papan atas.

Kedekatan itu ternyata menguntungkan ketika  Aksan dan Titi memilih bersahabat dekat. Meski awalnya sama-sama sudah punya pacar, persahabatan itu toh menjadi sarana yang asik untuk saling sharing.  Sampai suatu titik, Aksan merasa sering kehilangan kalau nggak ketemu Titi.

“Saya merasa lebih kehilangan ketika tidak bertemu atau bersama dia. Padahal ketika itu kita belum pacaran,” aku laki-laki berdarah Solo ini.  Setelah bersahabat selama dua tahunan, Aksan dan Titi akhirnya sepakat untuk pacaran.  

Perbedaan usia yang cukup jauh, ternyata tak menjadi kendala berarti buat dua insan ini. Aksan yang kelahiran Jakarta 22 September 1970, ternyata bisa connect dengan Titi yang lahir di Jakarta 10 Februari 1981. Perbedaan 11 tahun sempat membuat orang-orang dekat mereka meragukan keseriusan hubungan mereka.  “Padahal kita sih asik-asik saja,” celetuk alumnus Institut Musik Daya Indonesia [IMDI] Jakarta sambil terkekeh.

Yang lucu, menurut Titi, Aksan sebenarnya sudah melamarnya sampai tiga kali selama pacaran.

“Tapi aku menolaknya, karena berbagai alasan termasuk kesiapan mental menjadi seorang istri,” kenang perempuan yang awalnya sempat ditentang orangtuanya Idham Rajo Bintang dan Susy Aryani, ketika memutuskan menjadi drummer [dan musisi]. Sampai ketika malam tahun baru 2004, saat manggung di GWK Bali [kebetulan Titi ikut],  Aksan melamarnya [lagi] di belakang panggung.

“Aku sempat sebel, karena sebelumnya dicuekin habis sama Aksan. Tapi ketika dia melamar lagi, aku nggak bisa ngomong apa-apa dan mengiyakan,” kenang cewek yang tumbuh di daerah  Maninjau, Sumatera Barat.  Minggu, 15 Agustus 2004, di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Aksan dan Titi akhirnya disahkan menjadi suami istri.

Perkawinan mereka menjadi perkawinan dua budaya yang berbeda. Titi berdarah Sumatera yang ceplas-ceplos dan kadang meledak-ledak, sementara Aksan tumbuh dalam budaya Jawa di-mix dengan style Jerman.  Aksan sempat kuliah beberapa tahun di Folkwang Hoechschule Essen Jerman, jurusan Jazz Studiengang. Gaya hidup Eropa, membuatnya menjadi orang mandiri dan cuek. Lucunya, Aksan masih serig terkaget-kaget ketika Titi ceplas-ceplos. “Itu karakter Jawanya, ha..ha,” ucapnya terbahak.

Sementara Titi melihat Aksan yang lebih dewasa, adalah sosok yang penyabar dan cerdas.
Aku termasuk orang yang susah jatuh cinta, tapi ketika melihat Aksan aku suka karena wawasannya luas dan bisa diajak ngomong apa saja, papar Titi, yang kini jadi dosen di IMDI.

Dua kutub, dua karakter dan dua emosi yang berbeda itu, ternyata bisa membuat mereka saling ngerem.  Dalam bahasa Titi, yang ‘lucunya’ sempat meraih penghargaan ‘'Aktris Pendatang Baru Terbaik' Indonesia Movie Award [IMA] 2008, “Ketika Aksan ngebut, aku yang ngerem, begitu sebaliknya, ketika aku sedang kencang, Aksanlah yang menjadi penyeimbang,” tukas perempuan yang mas kecilnya sering main teater ini sambil melirik suaminya.  Titi juga mengaku, ketika pacaran tanpa tedeng aling-aling ‘mempertontonkan’ karakter masing-masing.

“Jadi kita sudah tahu jelek-jeleknya ketika pacaran. Saat menikah ya santai saja,” terang Titi.

ANAK YANG PEDULI
Titi dan Aksan tak menampik ketika disebut masa kecil mereka sudah berkecukupan. Bagaimana tidak, Titi adalah anak pengusaha hotel di Sumatera Barat, sementara Aksan punya orang tua sutradara film dan pebalet terkenal. Dimanja? Sombong? Atau mungkin merasa berbeda dengan kawan-kawan lain?

“Justru karena itu, dari kecil saya malah milih naik bis kota rama-ramai kalau sekolah soalnya malu kalau dijemput pakai mobil,” kenang Aksan. Apalagi kemudian ayahnya menyelipkan nilai-nilai nasionalisme dan sosial kepada Aksan. “Saya beruntung punya orangtua yang sangat toleran dan sosial,” imbuhnya.

Begitupun Titi. Meski ayahnya adalah orang yang pertama membangun hotel di Maninjau, tapi perempuan yang awalnya ‘sangat tomboy’ ini tak mau terkungkung pada ‘tembok kekayaan’ itu. “Saya mana betah degan model hidup seperti itu. Jadi ya mainnya dengan anak-anak lain juga. Nggak beda-bedainlah,” tegas cewek yang sering berkutat dengan musick scoring film ini kalem.

Tidak membedakan dan menerima perbedaan itulah yang kemudian ditularkan kepada anaknya, Miyake Shakuntala Sjuman.  “Anak itu kan selalu ingin bermain, jadi kita biarkan dia bermain dan kita awasin saja,” jelas Titi.  Aksan dan Titi mengaku bukan termasuk orangtua yang suak melarang anak-anaknya untuk melakukan aktivitas.

“Dia mau kotor-kotoran, dia mau hujan-hujanan, atau dia belepotan lumpur misalnya, kita nggak akan marahin. Biarin saja dia bereksplorasi,” tegas perempuan yang pernah kecewa karena batal duet bersama grup kondang asal Amerika Serikat, The Manhattan Transfers, di Java Jazz 2008.

Soal lingkungan hidup dan lingkungan sosial, menjadi salah satu concern pasangan musisi yang pernah bersama membuat ilustrasi musik pada film, di antaranya film The Photograph dan 6:30, untuk Miyake yang lahir di Jakarta, 4 November 2005 silam.

“Selain sekolah, di rumah saya juga membiarkan dia bermain-main dengan teman-temannya di halaman. Kadang-kadang main dengan anak kampung juga nggak masalah,” terang Aksan. “Soal lingkungan hidup, atau global warming,  meski dengan cara yang sederhana soal buang sampah misalnya, tapi kita ingin ajarkan kepada Miyake,” papar Titi dan Aksan serempak.

“Karena kita sudah melahirkan Miyake, kita juga harus kasih lingkungan yang sehat dan menyenangkan. Jangan dipenuhi dengan adegan kekerasan atau kekacauan, termasuk lingkungan hidupnya,” terang Aksan, yang pernah merilis album solo “Peaceful Journey” tahun 2004 silam bersama musisi jazz international : Joe Rosenberg, Peter Scherr, Masako Hamamura dan Eugene Pao.

Miyake juga bergaul dengan anak-anak pembantu yang bekerja di rumah mereka. “Kita pelan-pelan memberi penjelasan pada anak kita, tidak semua orang beruntung. Kita ingin dia bisa baik dan respect pada semua manusia kelak,” tegas Titi.

Hiruk pikuk Jakarta dan persoalan udara bersih, juga masuk perhatian pasangan ini. “Kalau memang kelak Jakarta sudah semakin tidak sehat, bisa saja kita putuskan untuk pindah, ke Bali milsanya,” tegas Aksan.  “Sekarang memang apa-apa yang kita lakukan sudah tidak berpikir hanya untuk kita berdua,” imbuh Aksan.

Aksan dan Titi juga orangtua yang tidak memaksakan sekolah tertentu untuk anaknya. “Sekolah penting untuk sosial dan melatih kepekaan anak. Tapi kita juga perhatikan sisi bermain dan emosi anak. Kalau dia nyaman dan senang, ya lanjut,” kata Titi. Soal mahal tidaknya, Titi dan Aksan tidak terlalu persoalan. “Kalau bisa sih nggak mahal-mahal, tapi benar-benar memperhatikan dan fokus ke anak,” repet perempuan pemilik rambut panjang lurus ini kalem.

Punya orangtua yang musisi, Miyake kemudian tumbuh dalam suasana musikal yang kental. Tapi Aksan dan Titi justru tak mengharuskan anaknya kelak bakal jadi musisi juga. “Kalau bisa jadi dokter,” celetuk Titi sembari terkekeh.  Dari kacamata Aksan –kini sibuk sebagai drummer POTRET bareng Melly Goeslaw dan Anto Hoed—mereka tetap akan mengajarkan musik, karena memang membantu tingkat emosi dan kecerdasan anak. “Tapi kelak dia mau jadi apa, kita nggak akan paksakan,” tegas drummer jazz yang menyebut musiknya dengan “21st Century Music”

Berlibur di luar Jakarta, menjadi pilihan pasangan ini ketika mengajak Miyake jalan-jalan.

“Biasanya kita pilih pantai Ancol atau Taman Safari, supaya bisa terbebas dari pengapnya Jakarta,”celetuk Titi sambil tertawa ringan.  Meski “resah” dengan Indonesia, Aksan dan Titi tak pernah berpikir untuk pindah dari Indonesia. “Kalau pun pindah, tetap di Indonesia kok,” sahut Aksan, yang juga  ngebentuk Aksan Sjuman & The Committee Of The Fest Experimental.

*obrolan ini dimuat di majalah parentguide jakarta, edisinya lupa...