Senin, 01 November 2010

Yang Terbunuh itu, Bernama: TUHAN...

JUDUL  yang  saya pakai ini, sudah barang tentu akan membawa kejutan kepada kaum “moralis” dan “rohaniwan’ yang setiap hari berkutat dengan ‘ke-Tuhan-an’ dan ‘ke-Ilahi-an’ sebagai satu-satunya kebenaran mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Tuhan, ajaran dan Kitab Suci adalah kebenaran absolute yang bahkan tak boleh dikritisi sedikit pun. Berani mengkritisi? Bersiap-siapkah dicap murtad dan menyempal.

Nietzsche dicap sebagai filsuf ‘pembunuh Tuhan’. Pasalnya, pernyataannya yang controversial dan melambungkan namanya kepada deretan filsuf “gila” mengatakan satu istilah latin ‘requeiem aeternam deo’ [istirahat kekal bagi Tuhan]. Artinya, Tuhan sudah mati dan beristirahat dengan nyaman dan aman serta tenang di pusaranya. Apakah filsuf asal Jerman ini sudah gila dan tidak punya pemahaman teologis yang kuat, sampai berani mengatakan begitu?

Nietzsche mungkin orang yang sanat menguasai keilmuan tentang Tuhan atau teologis. Dia lahir dari keluarga [Kristen] Lutheran yang amat –betul, amat taat. Moyang sampai kedua orangtuanya adalah petinggi-petinggi gereja yang sangat dihormati.  Bahkan Nietszche sendiri sebenarnya adalah calon pendeta sebelum menemukan belokan iman yang mengguncang keluarga dan dirinya sendiri.

Tentu saja pola pikir ini menggegerkan keluarganya yang dikenal sebagai Kristen [amat] taat. Dan gereja tempatnya bernaung pun pernah memberikan  semacam teguran atau pamerdi kepadanya. Tapi apa jawabnya? “Gereja-gerejan kan hanya menjadi makam-makam dan nisan-nisan bagi Tuhan.”

Nietzsche akhirnya memang mengakui hanya ada satu kebenaran, yaitu “tidak ada kebenaran” itu sendiri.

+++

Tidak. Saya tidak akan mengajak Anda yang membaca tulisan ini untuk menjadi “pembunuh” Tuhan seperti Nietzsche. Atau mengajak Anda mempertanyakan “kehidupan” Tuhan yang sudah “dibunuh” oleh filsuf yang aforisme-nya berjudul ‘Orang Gila’ menjadi perdebatan banyak filsuf lain, bahkan sampai saat ini. Saya juga tidak sedang menganjurkan Anda untuk “setuju” atau “menolak” gagasan-gagasannya. Biarkan pilihan itu menjadi pilihan Anda sendiri, bukan berdasar rasio dan [hanya] tulisan saya ini.

Saya membaca pemikirannya dan mengagumi keberanian seorang Nietzsche ini.  Kegilaannya pada pencarian dan kegelisahan [dimana  filsafat sangat mengagungkan kegelisahan ini] membuat menemukan banyak hal yang tak terbatas. Tapi dia menjadikan pencariannya itu sebagai sebuah kegembiraan yang membuatnya bisa “membunuh Tuhan” – menertawakan ilmu pengetahuan dan logika, menghina metafisika hingga memberikan “keraguan” kepada pemujanya.

Buat saya pribadi, kegelisahan, keraguan dan kegembiraan filsuf ini menyenangkan untuk diikuti. Saya tidak bicara dalam tataran “beriman” atau “tidak beriman” yang berlaku umum, tapi sebuah proses pendewasaan dengan logika berpikir yang linier.  Gagasannya memang kontroversial dan mengagetkan, bahkan ketika didiskusikan sampai saat ini.

Ajakannya “membunuh Tuhan” pasti bakal mengguncang iman kita. Tapi saya menyarankan –seperti sering dikatakan dosen filsafat saya—ketika membahas hal ini, letakkan Tuhan di laci meja dulu. Setelah selesai berdiskusi, ambil Tuhan dan silakan ditaruh di posisi terhormatnya lagi.

Saya tidak meminta Anda setuju, tapi saya juga tidak meminta Anda untuk tidak setuju. Ini wacana filsafat yang buat saya mendewasakan keimanan pribadi. Bagaimana dengan Anda?

[semarang, 1 november 2010, 8.36 wib – ingin selalu menggagas dialog tentang Tuhan]

Kamis, 28 Oktober 2010

Kesombongan, Kesehatian dan Cinta, Tak Bisa Linier dan Konruen…

Apa makna sebuah kesombongan? Nyaris tidak ada selain kita berdiri mendongak, menyorongkan kepala seolah menyentuh tubir langit. Kita seolah berdiri bertangkup tangan, bersedekap, dan kemudian memicingkan mata melihat siapapun di depan kita. Yap, semuanya menjadi tidak berarti lagi, karena roh kesombongan itulah yang menguasai kita. 

Lalu, apa esensi sebuah perhatian? Kita tidak berdiri sendirian. Ada manusia lain yang terpuruk, tergantung dan mungkin terseok-seok. Kita tidak menyentuh tubir langit, tapi nyaris rebah menyentuh selaksa debu yang bertebaran. Kotor. Kita tidak bersedekap, tapi mengulurkan tangan, dan mungkin saja, terkotori dengan sebuah kehinaan manusia yang tak pernah kita bayangkan. Kita tidak menjadi diri sendiri, karena kita bergerak dalam area komunal.

Kita memang bisa membeli kesederhaan. Kita juga bisa memborong perhatian. Tapi kita tidak bisa menanyakan harga sebuah ketulusan. Kita tidak bisa menggelontorkan segudang biaya untuk sebuah persahabatan yang riil. Kita mungkin mencintai kekayaan, tapi kita tidak bisa mengasihi kesombongan. Kita mungkin bergandengan tangan dengan kemewahan, tapi percayalah, kita tidak bisa memiliki soul, heart dan  spirit sebuah cinta sejati.

Berdiam diri dan merasa memiliki dunia, bukanlah esensi sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Justru ketika kita berkalang tanah dan tidak [merasa] menjadi siapa-siapa, kita adalah siapa-siapa. Karena disaat kita sedang “kosong” itulah, kita bisa memilih “mengisinya” untuk menjadi apa dan siapa.

Seperti saat kita mencintai seseorang. Sebenarnya, saat itulah kita [harusnya] mulai mencintai “ketisaksempurnaan” dan menerima “kelemahan” yang sebelumnya tidak pernah kita sadari. Menerima kelebihan itu mudah, tapi mampukah kita bertahan ketika kelemahan itu muncul dalam kebimbangan kita? Banyak yang tumbang ketika berada di dalamnya. Salah? Kita tidak bisa menjadi hakim.

Memang, kesombongan, kesehatian dan cinta, tidak bisa selalu berada secara linier dan konruen…





MENANGISLAH - Dan Nikmati Hatimu Yang Sebenarnya

MENANGIS! Kita tidak pernah bertanya, apa korelasi air mata dengan kesedihan, kegembiraan, kemarahan atau mungkin emosi yang tak tertahan. Kok, ketika semua rasa itu terjadi, tiba-tiba air mata menetes. Ilmihanya begini, Air mata adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membersikan mata.

Kata lakrimasi juga dapat digunakan merujuk pada menangis. Emosi yang kuat juga dapat menyebabkan menangis, walaupun kembanyakan mamalia darat memiliki sistem lakrimasi untuk membiarkan mata mereka basah, manusia adalah mamalia satu-satunya yang memiliki emosi air mata.

Kemudian mengapa kita juga sering menghakimi, air mata hanya milik orang lemah. Hanya milik perempuan dan [tidak boleh] jadi milik laki-laki. Ketika laki-laki menangis, dia akan terkesan cengeng, lemah, tidak macho dan mudah dipatahkan. Tidak, dengan alasan apapun!

Dan hari ini, aku ingin menangis. Aku tidak peduli dengan anggapan menjadi lemah, pengecut atau cengeng. Persetan dengan itu semua. Aku hanya ingin benar-benar merasakan bulir-bulir air mata menetes dan hati menjadi lega. Tak serta merta selesai persoalan, tapi menangis membebaskan sedikit rasa tertekan itu.

Aku menangis untuk orang-orang yang terabaikan, teraniaya dan tak sanggup berbuat apa-apa. Aku menangis untuk kemerdekaan batin. Aku menangis untuk melepaskan keterikatan dari keterpasungan.

Andai bisa kukirimkan air mata. Pasti sudah lama kulakukannya. Semoga ia mampu bersama menjadi penguat jiwanya. Karena aku hanya seorang manusia biasa yang sering menghujam kesedihan dan terhujam air mata juga.

Dan sedetik kemudian, air mata itu menjadi belati yang tajam. Disana bersemayan kemerdekaan. Dia berdiri tegak “menikam” puruk yang nyaris terjungkal. Aku terseret gemintang yang menertawaiku. Ya, aku berjingkat, terbangun dan berdiri. Dan di ujung sana, aku berdiri dengan tangan terkepal. Dan di ujung sana, aku menembusi diri sebagai pemenang.


p.s:
untuk kamu yang menangis, tapi bukan jadi kelemahan. untuk kamu yang merasa sedang berada di ranah kesedihan, tapi bukan jadi awal kejatuhan.

Kegenitan Religius Yang Menggelikan


INI RESIKO orang dekat dengan zat pencipta. Semua seperti tampak sempurna dan mulia. Kalau  fashion bisa jadi indikasi religiusitas seseorang, mungkin kita akan makin banyak melihat seliweran orang [sebutlah kumpulan manusia], yang “tampaknya” makin religius. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan melewati jalan utama di Jakarta, saya harus berhenti karena memberi kesempatan kepada rombongan yang sedang mengalami ‘kegenitan religius’ yang menyambar di kiri kanan.

Mengapa saya sebut kegenitan religius? Karena saya melihat euphoria, saya melihat antusiasme, saya melihat permukaan, dan saya melihat [bukan] pemahaman. Bagaimana tidak, mereka melabeli dirinya dengan gamis, tapi apa yang mereka perlihatkan di jalanan, lebih mirip protokoler pejabat yang tidak bisa tersentuh. Jujur, saya justru melihat konservatisme  dengan kekakuan yang membelenggu.

Kalau pemahaman religiusitas –dalam segala bentuknya—hendak diseret dan diberhalakan pada penafsiran yang justru bertentangan dengan manfaat kepada kemanusiaan itu sendiri, atau malah kemudian menindas kemanusiaan itu sendiri, maka religiusitas yang seperti itu adalah religiusitas fosil yang tidak berguna buat kemanusiaan dan manusia. Kita harus berani meninggalkan religiusitas yang menjadi “kumpulan” dogmatisme yang menindas kemanusiaan itu sendiri.

Kita menemukan “Tuhan” dengan cara yang bermacam. Semua menganggap proses spriritualisme –kalau itu memang memberikan spirit—adalah sebuah perjalanan yang ‘akhirnya’ dirasakan untuk bertemu dengan jalan sang khalik. Apapun dan siapapun yang disebut khalik itu. Telusur panjang itu, kemudian bermuara pada keyakinan menemukan yang baik dan berguna. Lalu yang jahat menjadi tidak berguna [dan harus ditinggalkan]. Sebentar, saya ingin bertanya, siapa pencipta jahat dan baik itu?

Dalam konsepsi seorang filsuf modern, Alfred Whitehead, kebaikan dan kejahatan itu bermuara pada Tuhan yang sama.  Terdengar paradoksal mungkin, kalau pernyataannya menyebut hal itu. Paradoks ketuhanan itulah yang kemudian memancar dalam diri dan kehidupan manusia. Dalam kacamata Kristiani, disebut Imago Dei, ketika manusia diciptakan dalam citra Tuhan. Dalam pandangan Alfred, dalam diri Tuhan sebenarnya terjadi dialektika yang melibatkan peperangan ‘baik’ dan ‘buruk’. Karena memang Tuhan-lah yang sebenarnya memilik dialektika itu.

Jadi kegenitan religius itu sebenarnya amat menggelikan……

[Jakarta, 2.08 wib, 18 mei 2010]

Selasa, 26 Oktober 2010

JOGJAKARTA, Sintesa - Sinkretisme & Permisifisme

DALAM EJAAN yang benar, seharusnya ditulis Yogyakarta. Tapi entah mengapa, banyak penulis, penutur, atau pembicara yang lebih senang [dan mantap] dengan mengatakan: JOGJAKARTA. Konon lebih terasa "rohnya". Eh, pembenaran darimana lagi itu....

Sinergi Jogjakarta [mohon maaf kepada ahli bahasa -red] memang terasa sebagai satu kekuatan bagi pendatang. Kabarnya, Jogjakarta adalah daerah tujuan wisata terbesar ke-2 setelah Bali. Masuk akal, karena Jogjakarta, meski tak punya alam seindah Bali, tapi kaya dengan kekuatan budaya yang santun dan membumi.

Buat penulis, Jogja punya daya tarik yang tak pernah mati. Pulau ini kaya dengan pola sinkretisme jawa dan arab. Hebatnya, paling tidak sampai saat ini, Jogja tak pernah merasa harus terlarut dalam sinkretisme basa-basi.

Tapi kini, Jogja adalah kota yang pesolek. Sayangnya, pupur dan maskaranya masih belepotan. Kota yang pernah begitu piawai mempertontonkan keramahan mbok-mbok bakul, kini --meski masih menyisakan keramahan itu-- menjadi daerah yang makin compang-camping.

Keterbukaan budaya, ternyata tak diimbangi dengan keseimbangan untuk mengadopsi budaya baru. Alhasil jadinya Jogjakarta seperti terengah-engah mempertahankan jati dirinya.

Mencintai Jogjakarta, tak hanya mencintai budaya saja. Mencintai Jogja adalah juga mencintai sinkretisme diam-diamnya. Mencintai Jogja adalah juga mencintai masyarakatnya [khususnya anak muda] yang begitu permisif dengan hal-hal baru. Mencintai Jogja adalah juga menerima segala kebusukannya.

Dan saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Jogja adalah cinta pertama saya. Konon, cinta pertama itu sulit dilupakan. Bagi saya, das sein dan das sollen Jogjakarta adalah sintesa yang tak pernah habis, meski mungkin kelak Jogjakarta menjadi nyonya tua yang keriput sekalipun. Meski mungkin Jogjakarta tenggelam oleh abu Merapi yang saat ini sedang terbatuk-batuk parah.

AGAMA Itu CANDU [Dan Boleh Dikritisi] - 3

.....Kedua kalimat ini memaparkan, bahwa agama (dan Tuhan) merupakan produk ideologis yang dibuat oleh manusia. Namun di mata Marx, penciptaan itu memiliki segi yang agung sekaligus mengharukan. Kemudian Marx berpaling ke aspek sosial yang merupakan perhatian utamanya:

"Namun manusia bukanlah suatu makhluk yang berkedudukan di luar dunia. Manusia itu adalah dunia umat manusia, negara, masyarakat. Negara ini, masyarakat ini menghasilkan agama, sebuah kesadaran-dunia yang terbalik, karena mereka sendiri merupakan sebuah dunia terbalik."

Jika manusia melihat dunia melalui kacamata agamis yang terbalik, itu disebabkan karena manusia hidup dalam masyarakat yang timpang:

"Agama merealisasi inti manusia dengan cara fantastis karena inti manusia itu belum memiliki realitas yang nyata. Maka perjuangan melawan agama menjadi perjuangan melawan sebuah dunia nyata yang aroma jiwanya adalah agama tersebut." Kaum sosialis tidak diajak berkampanye malawan agama sebagai tugas pokok, melainkan diajak berkampanye melawan bentun-bentuk sosial yang timpang.

Tugas utama kaum Marxis adalah untuk memberantas eksploitasi dan pendindasan, dan agama juga merupakan protest terhadap penindasan itu:

"Kensengsaraan agamis mengekspresikan kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan itu. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat.

Tanpa perjuangan untuk pembebasan sosial, kritik terhadap agama adalah sia-sia bahkan negatif, karena kritik semacam itu hanya mempersulit penghiburan emosional yang sangat dibutuhkan oleh manusia:

"Kritik telah merenggut bunga-bunga imajiner dari rantai, bukanlah supaya manusia akan terus mengenakan rantai yang tak terhias dan suram itu, melainkan agar dia melepaskan rantai itu dan memetik kembang hidup."

Marx menutup teks ini dengan menhimbau agar kaum filosof meninggalkan kritik terhadap agama demi memperjuangkan perubahan sosial:

"Maka begitu dunia di luar kebenaran itu hilang, tugas ilmu sejarah adalah untuk memastikan kebenaran dunia nyata ini. Begitu bentuk suci dari keterasingan manusia telah kehilangan topengnya, maka tugas mula bagi filsafat, yang menjadi pembantu ilmu sejarah, adalah untuk mencopot topeng keterasingan dalam bentuk-bentuk yang tak suci. Sehingga kritik terhadap surga menjelma menjadi kritik terhadap alam nyata; kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik."

Sentimen ini mengulangi isi semboyan revolusioner yang dimuat dalam Tesis IX Tentang Feuerbach (tulisan Marx): "Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya".

Sepanjang perjalanan menempuh jarak ruang dan waktu itu, agama diajarkan dan diyakini oleh pemeluk sebagai sesuatu kebenaran yang hakiki. Setiap perbedaan yang ada mempunyai potensi untuk terjadinya perbedaan kepentingan dan potensi untuk terjadinya konflik horizontal. Dalam pengertian inilah timbul pertanyaan, "Agama yang mana?" yang benar atau yang bisa salah.

Memang, bicara soal agama kita tak pernah menemukan titik temu yag benar-benar pas. Tapi paling tidak dengan sharing seperti ini, kita bisa melihat sudut pandang yang lebih luas lagi. Pencerahan itu muncul dari hati, bukan otak kita...peace!

*menemukan Tuhan itu indah.....

AGAMA Itu CANDU [Dan Boleh Dikritisi] - 2

"Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu rakyat" ------ (Karl Marx in introduction to the critique of Hegel's Philosophy, Oxford University; 1981)

Beberapa hari terakhir, ungkapan Karl Marx yang sangat populer di atas serasa terus menghantui pikiran. Tentu saja, hal ini tidak otomatis berarti saya adalah pengagum berat filsafat Marx. Tapi seandainya kita bicara dalam konteks kekinian, dimana agama benar-benar menjadi "ajang-pamer- moralitas" Karl Marx bisa-bisa tertawa melihat banyak orang yang menghujkat pemikirannya itu.

Secara terminologis, definisi "Agama" itu sendiri sudah menimbulkan persoalang yang pelik. Apa yang disebut "Agama" itu ? Dan kepercayaan mana saja yang layak dikategorikan sebagai "Agama" ?

Kata Agama dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Sangsekerta ( a = tidak; gama = kacau). Secara etomologis, agama itu berarti sesuatu yang "Tidak Kacau". Banyak orang memiliki keyakinan tanpa adanya agama sama seperti juga tidak memiliki hukum, jadi dunia akan kacau, karena segalanya diperbolehkan.

Dalam kebanyakan bahasa Eropa, kata agama itu berasal dari bahasa Latin = Religio yang diserap dari kata Ligare = mengikat; sedangkan Re = lagi; jadi bisa diartikan sebagai mengikat lagi. Konon kata Religion itu berasal dari St. Agustinus. Sedangkan dalam bahasa Arab = Din yang bisa diartikan sabagai taat atau suatu kata yang mengacu kepada kepatuhan.

Pada saat pemerintahan Order Baru, agama itu di definisikan sebagai "Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa", sehingga aliran yang tidak percaya akan Tuhan ataupun Tuhan yang Maha Esa sebenarnya tidak bisa dinilai sebagai agama.

Banyak orang dengan secara gampang menyatakan bahwa semua agama itu sama, kalau kenyataannya semudah demikian, maka manusia dengan mudah bisa gunta-ganti agama, seperti juga ganti pakaian. Tetapi kenyataannya boro-boro ganti agama ganti aliran pun sudah bisa dinilai sebagai dosa besar, misalnya Kristen Katolik pindah menjadi Protestan.

Kita sering mendengar tuduhan bahwa Marxisme bertentangan dengan agama serta memusuhi orang yang taat. Bukankah Marx pernah menyebutkan agama sebagai "candu rakyat"?

Sebetulnya sikap Marx dan Lenin dalam hal ini sering disalahartikan, baik oleh orang non-sosialis maupun oleh tidak sedikit orang yang mengaku Marxis. Kritik Marx yang termasyur mengenai peranan agama dalam masyarakat sebetulnya tidak diarahkan untuk meremehkan kepercayaan manusia pada Tuhan.

Memang betul bahwa Marx, sebagai seorang filosof yang bersikap materialis, tidak percaya pada Tuhan. Namun demikian Marx sangat menaruh simpati pada rakyat biasa yang beragama. Untuk memahami sikap Marx yang sebenarnya, mari kita menyimak tulisannya "Kritik terhadap Filsafat Hukum Hegel". Di sini kita mendapati rumusan terkenal tentang "candu rakyat", tapi dalam konteks spesifik.

"Di negeri Jerman," tulisnya, "kritik terhadap agama dalam garis besar sudah lengkap". Artinya, kritik tersebut sudah diselesaikan oleh kaum filosof yang mendahului Marx (kaum "Hegelian Muda" terutama Feuerbach). Marx merangkum kritik mereka sebagai berikut:

"Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran-diri dan harga-diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri."