Jumat, 14 Januari 2011

Seno Gumira Ajidarma : Hidup Menyempal Anak Profesor!

“AKU dijadikan apa oleh kalian?” --- pertanyaan itu muncul ketika kami menanyakan ingin disebut sebagai apa sosoknya. Dan baiklah, saya akan menempatkan Seno Gumira Ajidarma sebagai seorang manusia biasa. Bukan sebagai seniman, bukan sebagai penulis, bu­kan pula sebagai wartawan. Mengapa? Karena berbicara dengan pria kelahiran Bos­ton, 19 Juni 1958 ini, kita menemukan karakter mul­tidimensi yang tidak lazim— karakter kemanusiaan yang terlihat tidak biasa. Saya lebih suka menyebut pria berambut gondrong (yang mulai banyak memutih ini), ‘anak nakal yang pintar.’ 

Saya mewawancarai ayah satu anak ini pada suatu siang yang cukup terik di kampus tempatnya mengajar, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta [IKJ] Jakarta. Oh ya, di kampus inilah, Seno juga dinobatkan sebagai alumni fakultas sinematografi. “Saya balik kandang,” celetuknya sambil terkekeh ringan. Sembari me­nyesap kopi hitam di depannya, Seno bercerita dari angkatannya yang masuk ke IKJ, yang lulus masih bisa dihitung jari. “Mungkin sebelumnya sudah pada bekerja dan malas menyelesaikan kuliahnya,” tukas ayah fotografer Timur Angin ini kalem.  

Besar di Jogjakarta, Seno kecil sebenarnya agak “berbeda” dengan anak kecil lainnya. Saat anak lain masih berkutat dengan nangis dan disuapin, Seno malah menjadi “leader” untuk ramai-ramai menolak ikut kelas wajib paduan suara. “Sebenarnya karena saya bosan dan saya ijin untuk tidak ikut. Karena disarankan keluar kalau sudah bosan, ya sudah, saya ajak kawan-kawan yang sudah bosan juga,” kenang seniman yang juga dosen di Universitas Indonesia ini sambil terbahak ringan. Sebenarnya, Seno mengaku “trauma” ketika SD. Pasalnya, selain dirinya dianggap “biang kerok” setiap ada kekacauan di sekolah, Seno kecil selalu diposisikan sebagai mediocre, atau “golongan tengah”. 

Waktu SD, anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di Boston, Amerika Serikat, itu selalu duduk di baris tengah agak depan. ”Yang pintar duduk di belakang, yang kurang bisa menangkap pelajaran duduk di depan, sementara saya di tengah-tengah,” kenang penerima SEA Write Award 1987 ini menerawang. Repotnya, posisi itulah yang mem­buatnya tidak pernah merasa hebat. Sebaliknya, selalu merasa kurang. ”Kon­sekuensinya mahal, karena aku harus belajar keras.” Ketika ditanyakan kabar kawan-kawannya yang “pinter” karena duduk di belakang, Seno hanya terkekeh. “Rata-rata memang sukses sesuai pan­dangan orang. Tapi tidak ada yang tahu mereka siapa bukan? Meskipun mereka memilih pekerjaannya sebagai bagian dari politik identitasnya,” ucap penyuka kopi tubruk ini rada skeptis . “Hidup kita adalah proyek yang tidak ada habisnya,” celetuknya lagi, mencoba menelaah secara filosofis

Cerita menarik dari Seno adalah ketika SD orangtuanya pernah dipanggil ke sekolah gara-gara nilai agamanya: merah! “Nilai rendah saja aib, apalagi merah,” ucap­nya sambil terbahak. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluar­kan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,” tutur Seno, santai. Ketika itu semua terjadi, biasanya ibunyalah yang turun tangan. “Dia tidak pernah marah, tapi memberi wejangan yang membuat saya menurut,” kenang si “anak bandel” ini. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Keinginan itu tentu saja mengejutkan orangtuanya. Meski Seno kemudian “cuek” saja. 

Simak alasan­nya tentang hal itu. “Saya terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May.” Dan mulailah petualangan hatinya. Seno mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu moccasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profe­sor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.

Orangtuanya bukan orang sembarangan. Ayahnya, Prof. Dr. Sastroamidjojo, ada­lah ahli fisika dan guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Sedang ibunya, Poestika Kusuma Sujana [alm], adalah dokter spesialis penyakit dalam. Untuk urusan ilmu pasti, Seno harusnya tidak ada persoalan, karena mewarisi otak eksak dari orangtuanya. “Kalau diukur dari nilai pelajaran, ilmu pasti saya tidak jelek-jelek amat. Tapi percayalah, saya paling tidak suka dengan aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. Tidak menyenangkan sama sekali,” tegas mantan pemimpin redaksi majalah Jakarta-Jakarta ini lugas. Tentu jadi pertanyaan besar ketika anak profesor fisika, ternyata punya jalan hidup yang ”menyimpang” dari ekspektasi orang. “Saya dianggap menyimpang karena berbeda dengan orangtua. Apa yang salah ketika saya memutuskan berbeda?” ujarnya retoris. 

Pembedaan itu muncul ketika komu­nitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elit perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”

Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya “Pelajaran Mengarang” terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: “Manusia Kamar” (1988), “Penembak Misterius” (1993), “Saksi Mata” (l994), “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (1995), “Sebuah Pertanyaan untuk Cinta” (1996), “Iblis Tidak Pernah Mati” (1999). Karya lain berupa novel “Mat­inya Seorang Penari Telanjang” (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Bukunya yang berjudul “Negeri Senja” bahkan mendapat peng­hargaan tertinggi dalam dunia sastra Indonesia, Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2004. Berkat cerpennya “Saksi Mata”, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997. Buku yang terbit tahun 2007: “Kalatidha” (novel), “Linguae” (kumpulan cer­pen), dan “Sembilan Wali & Siti Jenar” (nonfiksi) ; sedangkan “Sukab VS. Ninja Burik” (komik strip di majalah Sequen, bersama Asnar Zacky), dan “Nagabumi” (cerita silat di harian Suara Merdeka, Semarang) masih terus bersambung sampai sekarang dan sudah menjadi novel [2009].

“Menulis adalah napas saya. Menulis adalah belajar tentang kebebasan. Saya boleh tidak bekerja apa saja, tapi tidak dengan menulis!” tegas pria yang menolak ketika obrolan mulai masuk ke ranah keluarga. “Kita bicara topik yang lain saja,” tegas pria yang menikahi Ikke Susilowati, ketika berumur 19 tahun. Seno mulai menulis di SMA, tahun 1974. ”Aku mewajibkan diriku menulis karena aku suka membaca,” lanjut­nya. Ia hidup dari menulis, meski tak bercita-cita menjadi penulis. ”Aku hanya terobsesi menguasai tulisan,” katanya. Sama seperti setiap orang yang mencari identitas, Seno mengaku tidak pernah mengarahkan dirinya seperti sekarang ini. “Saya pikir tidak semua orang berpikir soal itu, karena semuanya bicara soal kemapanan, status sosial. Seolah semua memang harus begitu yang baik, di luar itu akan dilihat ber­beda,” tutur Seno lagi. Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,” kata Seno bangga. 

Tulisan pertamanya dimuat di Harian Berita Nasional [kemudian jadi Bernas] di Jogjakarta. “Lucunya, koran ini adalah koran yang tidak punya huruf T,” kenangnya terbahak. Novel pertama, dianggapnya tidak ada. Kenapa? “Karena memang menurut saya jelek sekali. Tidak pernah saya tuliskan dalam karya-karya saya. Ceritanya soal penari yang dipacari penjahat,” pungkas Seno.

Fase “pemberontakan” dimulai ketika melihat pementasan Rendra dilarang di UGM. “Saya mikir, kenapa harus dilarang, sementara di kampus-kampus lain diijinkan main. Ketika akhirnya main, saya nonton,” kenangnya. Ketika itu, Rendra membuat Perkemahan Kaum Urakan berupaya menjawab tantangan ekspresi kaum muda yang lembek ketika itu. “Dan orang tidak tahu, acara apa itu. Saya sendiri langsung tahu mau jadi apa, ketika nonton Rendra. Betul, saya ingin jadi seniman,” tegas pengagum pengarang R.A. Kosasih ini. Hal itulah yang juga membuatnya memilih teater ketika SMA. “Saya makin paham klise-klise berkesenian. Saya bela­jar tentang bagaimana manusia harus berkepribadian dari teater,” tukasnya. Kisah menarik berteater adalah sudah latihan selama 2 tahun lebih, tapi peran yang [pernah] dimainkannya hanya sekali numpang lewat. “Ketika itu saya hanya sekali muncul di panggung ketika teater saya mementaskan Frederico Gar­cia Lorca,” kenangnya sembari ngakak. 

Dulu ia ingin jadi seniman ”biasa” yang bisa merasa bahagia dengan apa adanya. Ia merasa sudah mencapainya pada usia 17 tahun ketika mengikuti rombongan Teater Alam. Pada usia 19 tahun ia sudah bekerja di koran sehingga berani menikahi Ike. Pada usia 20 tahun, Timur Angin—yang kini berprofesi sebagai fotografer, lulusan Institut Kesenian Jakarta, tempat ayahnya menyele­saikan S-1-nya di bidang film—lahir. “Ketika sudah punya anak, upacara dalam hidup sudah saya tuntaskan, dan saya tidak punya target apa-apa lagi,” tegasnya.

Orangtuanya mungkin “jengkel” ketika Seno kecil kerap berulah yang mem­buat mereka mengelus dada. Sekarang, harusnya mereka akan berbangga. Meski tidak ada hubungan­nya dengan eksakta, Seno membukti­kan diri punya otak yang cukup bagus. S1-nya diambil dari Sinematografi IKJ Jakarta. Kegelisahan membawanya pada pencarian S2 di Jurusan Filsafat Universitas Indonesia. Selesai? Ternyata tidak, karena cerita Panji Tengkorak “sukses” membuatnya tertarik masuk kelas doktoral. Ia menyelesaikan S-3-nya dalam de­lapan semester diselingi proses kreatifnya melahirkan tiga novel—salah satu novelnya, “Negeri Senja”, mendapat Khatulistiwa Literary Award 2004—dua naskah drama, skenario, dan puluhan cerita pendek, kolom, esai yang dimuat di berbagai media. Ia masih bisa melakukan kegiatan yang ia gemari: memotret, bahkan sempat pameran karena ada teman yang memintanya. “Karena sering menulis cerpen, aku dikira sebagai cerpenis, he..he..he.”

Meski terlihat makin tua, tapi kata seorang kawan wartawan, Seno Gumira Ajidarma justru terlihat makin maskulin dan mempesona. Kalau disinggung soal itu, Seno hanya terkekeh saja. Gaya hidupnya yang serba lepas—konon—berimbas pula pada pola pendidikan anaknya. Timur Angin, fotografer yang cukup terkenal di In­donesia, adalah intimasi dirinya sendiri ketika muda. Meski mengaku jarang ketemu dan ngobrol, “karena dia sudah punya kehidupan sendiri,” kata Seno, tapi naluri sebagai ayah membuatnya tampak bangga dengan pencapaian anaknya. Dan kami meninggalkan pria gondrong yang bercelana jeans, kaos oblong biru, dengan gaya bicara sakpenake [seenaknya –red] ini di deretan poster film di dekat ruangan­nya di IKJ.

foto: m.i. mappasenge

Sabtu, 08 Januari 2011

Buang ARSENIK Di Hatimu

INI kisah nyata tentang seorang perempuan tuna netra. Sebut saja namanya Diana. Dia adalah ibu dari delapan orang anak. Bukan orang kaya, biasa saja. Miskin? Secara materi mungkin agak tertatih, tapi Diana punya “kekayaan” lain yang lebih dibanding perempuan lain. Apa itu?

Diana ditinggalkan suaminya –bukan diceraikan—ketika melahirkan anak bungsunya. Sang suami terpikat perempuan lain dan membuat Diana harus jungkir-balik menafkahi anak-anaknya yang mulai beranjak besar. Tidak semua dirawatnya, karena dengan keterbatasan fisiknya, Diana tentu saja “kerepotan” mengurus delapan orang anak. Beberapa anaknya “terpaksa” dirawat orang lain, tapi seperti pengakuannya: sebenarnya, hati seorang ibu tak pernah rela anaknya berpisah.

Kemudian untuk menopang hidupnya, Diana mengambil kursus pijat sampai akhirnya bekerja di salah satu panti pijat khusus tuna netra. Dan itulah yang member harga diri sebagai seorang ibu. Tak pernah mengeluh hingga kemudian anak-anaknya dewasa dan berhasil mandiri.  Kisah hidupnya berakhir, ketika Diana meninggal karena sakit.

Satu pertanyaan yang selalu dijawabnya dengan ringan dan tulus, apakah Diana merasa sakit hati dengan perlakuan suaminya?

“Saya memaafkan dia, dari pertama dia menyakiti saya.”

Kisah Diana, dari kasat mata tampaknya bicara soal ‘kelemahan’ perempuan. Kalau sudut pandang itu yang Anda tangkap, maaf Anda salah.  Diana bicara soal keteguhan, pengampunan, ketulusan dan mengasihi. Bukan soal mudah memilih berada di sisi ini, karena dia adalah perempuan yang tersakiti. Biasanya, manusia akan langsung melawan atau menghujat dengan cara apapun, ketika dirinya tersaikiti yang amat sangat.

Ibarat angin, Diana adalah kesejukan yang membawa keluarganya melintasi badai. Dia melewati jurang, dan selamat sampai di ujung. Dia mengakhiri “pertandingannya” dan berhasil mencapai garis finish.

Apa yang Anda dapat dari ilustrasi Diana ini? Ketika kita tersakiti, secara manusia pasti terluka. Saat kita membawa luka itu berkepanjangan, kita sebenarnya membawa racun dari dalam hidup kita. Dendam itu arsenic –racun yang membunuh pelan-pelan dalam tubuh.

Mengampuni, memaafkan, atau melupakan kesakitan itu ‘nyaris’ tidak mungkin. Tapi Diana bisa melakukannya saat dengan tulus membuang “racun” dari pertama kali terluka.  Beranikah Anda ambil keberanian itu?

[Jakarta, Jumat 07.01.2010]

Jumat, 07 Januari 2011

Bakar Saja Kitab Sucimu!

SAYA mengawalinya dengan mengutip satu kisah yang ditulis oleh Anthony de Mello, SJ. Begini:

Jesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajakNya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Kristen dan kesebelasan Islam.

Kesebelasan Kristen memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Islam yang mencetak goal. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya: 'Saudara berteriak untuk pihak yang mana?'

'Saya?' jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. 'Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.'

Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Jesus: 'Ateis!'

Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. 'Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan,' kata kami. 'Mereka selalu mengira, bahwa Tuhan ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.'

Jesus mengangguk setuju. 'Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya,' katanya. 'Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat.'

'Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu,' kata salah seorang di antara kami dengan was-was. 'Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.' 'Ya --dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama,' kata Jesus sambil tersenyum kecewa.

+++

KALAU Anda membaca tulisan ini, jangan serta merta “menghalalkan” darah saya sebagai penulis. MUNGKIN TERDENGAR agak keras. Saya bukan sedang menganjurkan orang untuk "kurang-ajar" kepada kitab suci yang diyakini sebagai personifikasi Suara Tuhan. Saya juga tidak sedang 'ngamuk-ngamuk' dengan kitab suci yang nota-bene kalau Anda bakar, masih bisa mudah didapatkan di toko-toko buku agama. 

Bukan. Bukan itu. Saya cuma sedang gundah dengan banyak orang [sekelompok sih, sebenarnya] yang selalu mengatasnamakan agama, Tuhan dan kitab suci, untuk menggempur agama, orang atau kelompok lain yang mereka anggap tidak sama [dengan mereka].

Kalau memang kitab suci mengajarkan untuk memporak-porandakan hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan, BAKAR SAJA! Kalau memang kitab suci mengajarkan kita untuk saling memusuhi, saling membunuh dan saling menghajar, BAKAR SAJA!

Setahu saya, Kitab Suci itu petunjuk untuk melakukan hal-hal yang  baik dan memberi arah kepada kita untuk saling menghormati kepada manusia lain [bahkan kepada alam dan binatang]. Kitab Suci selalu mengajarkan untuk menghormati tanpa bersikap “memusuhi” manusia lain, apapun agama, kasta dan latar belakang sosialnya.

Dan saya hanya bisa geleng-geleng kepala, ketika kitab suci jadi pembenaran untuk melakukan pemaksaan. Dengan hebatnya mengambil ayat, yang memperkuat kelakuan-kelakuan busuknya. Ah, sudahlah..kalau masih begitu BAKAR KITA SUCIMU dan Bikin Kitab Baru yang "mendukung" semua kelakuanmu.


Kamis, 30 Desember 2010

Terimakasih Untuk Memimpikan 'Kematianku'

APA yang kamu bayangkan ketika seseorang mengatakan, melihatmu mati dalam mimpi? Ketakutan, panic, parno, bikin surat wasiat, atau bagi-bagi warisan? Reaksi pertama pastilah begitu. Apalagi kalau kamu adalah “pecandu” mimpi sebagai sebuah realita yang “mungkin” adalah pertanda. Banyak orang yang meyakini, mimpi adalah tanda-tanda bakal terjadi sesuatu dalam kehidupannya. Apapun mimpi itu, bisa ditafsirkan macam-macam.

Suatu ketika, seorang kawan mengatakan kepada saya, tentang mimpi yang melihat saya mati dalam sebuah kecelakaan. Jujur, reaksi saya adalah terkejut. Bukan terkejut karena saya mati, tapi terkejut mengapa mimpi mati, kenapa tidak bermimpi mendapat lotere milyaran rupiah saja. Tapi ya sudahlah, namanya juga dia yang mimpi, saya mana bisa milih.

Sayangnya, sampai detik ini saya adalah orang yang tidak pernah percaya mimpi, ramalan, perdukunan, dan sejenisnya. Buat saya, semua hal bisa dijelaskan dengan logika. Tapi saya tetap menghargai orang yang bermimpi tentang saya. Paling tidak saya diberi ingatan untuk berhati-hati dan menjaga diri. Soal percaya atau tidak, tadi sudah saya jelaskan, saya tidak percaya. Urusan mati hidup, bukan urusan mimpi bukan?

Buat saya,  meski mimpi mati membawa ketakutan dan kecemasan, hal ini bukan sesuatu yang harus ditakuti, karena seringkali ini merupakan simbol positif. Memimpikan kematian biasanya berarti ada perubahan besar yang menanti kamu. Dalam sisi negatifnya, memimpikan kematian bisa jadi menjelaskan keterlibatan dalam sebuah hubungan yang menyakitkan atau tidak sehat, serta perlakuan yang destruktif. Untuk mati memang urusan yang ngasih hidup. terserah, kapan Dia mo ambil kehidupan itu.

Dari beberapa referensi yang say abaca, Mimpi Buruk Dapat Berakibat Pada Kematian. Film horor Wes Craven "A Nightmare On Elm Street" (1984) jadi yang paling populer sepanjang masa. Suatu penyakit nyata disebut "sindrom kematian tiba-tiba tak terduga malam hari" menginspirasi film itu. Craven mengatakan dalam sebuah wawancara dengan majalah Cinemafantastique pada tahun 2008, “sudden unexpected nocturnal death syndrome” (SUNDS) adalah yang menyerang orang muda sehat hingga mati saat tidur


Ada beberapa teori yang menghubungkan awal SUNDS hingga stres yang disebabkan oleh mimpi buruk. Tapi ada penelitian ilmiah yang telah menunjukkan hubungan antara kematian SUNDS dan isi dari mimpi buruk. Saat ini, tidak ada pengobatan yang efektif untuk SUNDS, dan tidak ada alasan yang jelas mengapa cenderung mempengaruhi orang Asia Tenggara lebih sering daripada kelompok lainnya.


Jadi, terimakasih untuk yang memimpikan “kematian” saya….

Rabu, 29 Desember 2010

Tentang Perempuan di Kebun Basah Itu...

HARI INI, hujan begitu derasnya. Menetesi setiap sudut terbuka. Meski telah reda, tapi aroma tanah yang tersiram itu begitu menggoda. Harum, khas hujan. Sosok perempuan berkacamata itu, dengan jaket tebal ungunya, memilih berjalan-jalan merasakan angin basah itu. Dengan amat detil dia berjalan melewati kebun buahnya.

Tidak ada orang di sekitarnya, karena perempuan itu memang ingin sendiri. Berjalan perlahan melintasi buah demi buah yang mulai matang. Tangannya menyibak tetesan air di dedaunan. Dia berhenti sejenak dan menutup mati. “Ah, betapa menyenangkan tetesan air ini. Sejuk dan menyegarkan,” ucapnya dalam hati.

Dia melangkahkan kakinya ke arah palungan air. Dan berjalan di bawah naungan pohon jacaranda yang tumbuh di kebunnya. Daunnya kuyub, beberapa bunganya berguguran. Tapi indahnya tak tersesat.

++

Perempuan berkacamata itu, adalah perempuan terindah yang pernah Tuhan ciptakan. Aku –si kumbang—selalu terpesona melihatnya di kebun itu. Gambaran dirinya membuat aku enggan terbang jauh dan pindah ke kebun lainnya. Rambutnya tidak terlalu panjang, sebahu. Hitam dan menyenangkan dilihat. Harumnya membuat aku ingin terbang di sebelahnya.

Kulitnya lembut dan putih, ditopang kakinya yang jenjang. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, kombinasi utuh dari keindahan dan keseimbangan. Jangankan aku si kumbang, kupu-kupu yang jadi teman terbangku pun, memilih hinggap di bunga saat dia melintas, memberikan senyumannya.

Sesekali aku melihat bertelanjang kaki, merasakan tanah lembut diinjaknya. Meski ternyata, dia tak selalu menikmati ketelanjangan kakinya. “Geli ama binatang kecil-kecil,” elaknya pada Mawar, teman yang sering diajaknya melintas bunga dan buah.

+++

Dan setiap dia tak berjalan di kebun ini, aku merasa terbangku tak ada gunanya. Agak menggelikan, karena kumbang tiba-tiba jatuh cinta kepada manusia. Tapi bukankah cinta adalah hak semua makhluk?

+++

Apa yang terjadi kemudian, perempuan berkacamata itu sendiri tak bisa menebaknya. Semua menggambarkan kemurungan dan mendemonstrasikan hasrat yang tidak pernah dia sendiri tahu.

Kebun itu memberinya ruang untuk berkomtemplasi. Memberinya udara untuk berefleksi. Buah-buah matang itu selalu tersenyum kepadanya dan membuatnya menyanyi riang bersama embun yang dihelanya. Bahkan ketika mendung pun, perempuan berkacamata itu memilih kebun ini sebagai tempatnya berteduh.

+++

Buat aku, si kumbang yang  menikmati terbang di kebun ini, perempuan berkacamata itu memberikan wangi dan memancarkan kecantikan yang khusus. Secara kontemporer, cantiknya hangat. Dan sering aku membayangkan terbang seiring di sebelahnya.

+++

Dan gerimis kecil yang merintih, bernyanyi:
Bulan purnama melayang tepat di atas kaki langit, dia membayang dengan sudut yang amat tajam, Sehingga cahayanya yang bergelombang merentang di sepanjang lebar danau. Tapi, bulan memberi cahaya yang dingin…

Di seberang danau, pepohonan pinus yang menjulang, Kayu keras yang telanjang, tak bergerak. Sementara malam terasa kaku, diam dan tak berangin.

Gemintangnya seperti sketsa dari India. Pada langit yang telah berubah menjadi musim dingin. Kecantikanmu sederhana dan hangat. Kejujuranmu selalu melewati taraf menyakitkan. Mencintaimu tak sekadar esoteric, tapi eklectika. Dan biarkan cinta itu tetap bersenandung

+++

Perempuan berkacamata, kembali di kebun itu dan duduk sendirian….

[yado, 29 desember 2010 – 12.10 wib – ah, betapa sulitnya untuk tidak mencintainya]

Menutup Katub EGO-[Ku/Mu]

MEMPERTAHANKAN keselarasan rasa, ucapan, dan pilihan bersikap, sebenarnya satu garis lurus yang saling berhubungan. Kalau diarsir, akan membentuk satu gabungan yang tak terpisah. Tapi menggabungkan itu dalam garis lurus itulah tantangannya, karena bukan perkara mudah. Amat sulit malah.  Ada toleransi, pemahaman, dan kesepakatan hati. Kalau tidak, yang terjadi adalah benturan yang bertubi-tubi.

Dalam sebuah hubungan, yang namanya ‘arus-pendek’ akan sering terjadi. Apalagi ketika intensitas relasi itu adalah intens, kemungkinan-kemungkinan untuk gesekan, pasti akan lebih besar. Pilihannya hanya dua, membesar yang akhirnya mengacaukan relasi itu, atau mengecil dengan merendahkan tempo kesombongan dan mau belajar dari orang lain.

Ok, sebutlah cinta. Jujur, ketika kita mencari pasangan [kekasih atau istri], hal pertama yang kita harus sadari adalah, mencari titik temu ego masing-masing. Ada yang ketemu dan hubungannya lancar-lancar saja. Tapi ada yang tetap mencari dan pilihan-pilihan yang menyakitkan harus diambil.

Saya bukan tipe seperti rohaniwan yang kerap berceloteh soal kebaikan [dan mereka memang aslinya baik kok]. Saya memilih sebuah relasi atau hubungan yang platonic.  Mengangkat tenggang rasa sebagai panglima, dan merendahkan ego dalam katub yang kemudian kita kunci rapat-rapat.

Kalau kita cepat tersinggung, marah, atau sensitive untuk hal-hal yang sebenarnya bisa kita “maafkan”  -- itu artinya rasa untuk menerima orang lain apa adanya, masih sedikit terganjal.  Atau juga, justru rasa memiliki demikian besar, sehingga harus membentuk orang itu seperti yang kita minta?

Yang saya ingin katakan, menyayangi, menerima orang lain dalam hidup kita, mencintai seseorang dengan tulus, dan memilih dia dalam relasi cinta kita, adalah menerima dengan utuh, memberikan masukan dengan kasih sayang. Merubah dan berubah, adalah bonus dalam sebuah relasi yang sehat. Kalau saya, jika memang masuk akal dan bisa diterima dengan baik, kenapa tidak kita melakukan apa yang dia minta?

Mencintai, menyayangi, mengasihi, adalah bentuk kasih agape kepada manusia lain. Kalau saya merasakan hal itu, sebisa mungkin [dan selama mungkin], saya menerima semua kekurangan dan kelebihannya. 

Tuhan, Kembara Ini Kembali Padam-MU

Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari..
Agar kami, beroleh hati bijaksana…..

Ajar kami Bapa, hidup dalam jalan-Mu
Agar semua rencana-Mu, digenapi……

+++
Tuhan, aku terlalu lama apatis kepada-MU. Bukan tidak percaya, tapi terlalu banyak pertanyaanku tentang Engkau yang aku cari. Dan aku tak pernah menemukan jawabannya. Aku yang terlalu pongah mencari, atau memang Engkau terlalu luas untuk aku mengerti?

Tuhan, sudah lama aku tidak menyebutmu. Lama sekali. Hingga kadang-kadang aku lupa dengan semua sebutan-Mu. Sudah terlalu lama aku tidak memanggil-Mu, hingga aku lupa kalau aku punya sahabat dekat.  Aku mengabaikan-Mu dengan sejuta pertanyaan yang aku coba mengerti sendiri. Aku mencoba menginterpretasi apapun yang Kau katakan dengan caraku.

Tuhan, terlalu kuat aku menyangkal-Mu. Hingga aku merasa Engkau memang tidak ada. Aku seperti bicara dengan kekosongan. Aku bicara dengan kehampaan. Aku bicara dengan omong-kosong. Tapi aku salah. Engkau masih mendengarku. Engkau masih setia dengan ketidaksetiaanku. Engkau masih ada, dan Engkau tidak pernah jauh dari kekacauanku.

Tuhan, terlalu lama aku menghujani-Mu dengan serapahku. Terlalu sering aku menghajar-Mu dengan kekerasan lidahku. Terlalu kerap aku mempermalukan-Mu dengan tingkah lakuku. Dan Engkau tidak pernah meninggalkanku dalam keterpurukan.

Tuhan, aku mengembara mencari-Mu. Banyak “tuhan” aku temukan. Lama aku berkelana. Aku jadi pengelana keimanan. Dan Engkau memberiku kesempatan untuk bergerak tanpa batas. Sampai akhirnya Engkau menghentikan aku. Aku tak pernah menemukan-Mu, tapi Engkau-lah yang menggenggam-ku kembali.

Tuhan, aku kembali Pada-MU…

[yado, Engkau menemukan-ku, 20 september 2010, 0.02]