Rabu, 18 Mei 2011

KEMATIAN ADALAH AKU

KEMATIAN ITU adalah aku,
Kebekuan itu adalah aku,
Kepasrahan itu adalah aku,
Kesedihan itu adalah aku,
Kemarahan itu adalah aku,
Kekalahan itu adalah aku,
Keterpurukan itu adalah aku,
Kehancuran itu adalah aku,

Berjalan di atas darahku,
Menginjak remuk tulangku yang terserak
Melihat dentuman jantungku,
Yang terhujam membelah dan berdegup lemah

Teraniaya kegelisahanku,
Merambat di tebing jurang yang amat curam
Tertusuk kebodohanku,
Hingga nyaris terhempas di karang tajam,

Karena,
KEMATIAN adalah aku...
Dan dia menghampiriku 

Kehilangan Atas Kehilangan

Ke-tiada-an adalah nisbi. Kekosongan adalah nihil. Dan kehampaan adalah patron. Semuanya bermuara pada ketidakadaan. Semuanya similair. Lalu dimanakah ke-ada-an itu bersinggah? Dimanakah posisi manusia yang karena berpikir maka dia ada itu berada?

+++

Saya sedang melayang di atas kekosongan itu.  Kehampaan itu begitu terasa bahkan ketika tubuh ini terasa lengkap dan tidak kekurangan satu apapun. Kok bisa? Pikiran ini mengalir begitu cepat, tapi arahnya tak beraturan. Detak jantung pun berdebam kencang, tapi tak berirama sama sekali. Lebih pada periodesasi kelelahan yang tidak terdeteksi sebelumnya.  Membuat tubuh ini terasa renta.

Aku seperti kehilangan dalam kehilangan.  Mengembara dalam ruang tanpa batas, tak pernah tahu waktu dan arah untuk kembali. Ada cahaya, tapi nyaris seperti fatamorgana. Ketika didekati hanya visualisasi kosong yang mengecewakan.  Aku kehilangan pegangan, aku kehilangan kendali, aku kehilangan hati, aku kehilangan rasa dan aku kehilangan kekuatan.

Di dalam kehilangan itu, aku kembali kehilangan.  Kehilangan cahaya, kehilangan tangan, kehilangan mata, kehilangan tubuh, meski ragaku tampak melayang-layang. Aku seperti dihisap tarikan debu, berserakan tapi mematikan dan tak memberi ruang udaranya. 

Nyaris seperti mati.  Nyaris seperti mayat yang tetap bisa berdiri tapi tak bisa bergeming. Nyaris seperti roh yang lupa dimana raganya tinggal. Nyaris seperti manusia yang tak pernah diciptakan oleh sang pencipta. Hampa, kosong dan mati.  Aku tidak mengenal diriku sendiri, karena aku sudah kehilangan dalam kehilanganku.

Lalu adakah ke-ada-an untuk ragaku yang tersisa ini? Entahlah. Ketika nisbi bersinergi dengan nihil, semuanya nyaris tak mungin bertemu. Adakah kesempatan untuk hidup sebelum mati, adakah hembusan nafas sebelum lunglai? Di pekarangan jiwa, di kebun hati dan di belukar kehidupan, selalu ada titik terang yang bukan fatamorgana. Sekecil apapun itu.  Dan disanalah, mungkin kehilanganku atas kehilangan akan tertemukan. Entah oleh siapa.

Minggu, 10 April 2011

Keliaran Pemikiran -- Terjadi 'Pembantaian Tuhan' Disini

UNTUK “keliaran” pemikiran, tumbalnya adalah tudingan “aneh, atheis, berdosa, penghuni neraka & durhaka” – mengerikan bukan? Tapi apakah tudingan itu membuatku bergerak mundur dan menjadi kucing manis yang enak dielus, diberi susu dan tertidur? Maaf, siapa yang bisa memasung pemikiran, bahkan sekalipun kita sedang terpasung?
Saya ingin mengatakan, bukan perkara tidak ada seorang pun yang berhak dan bisa memenjarakan pikiran. Tubuh ragawi boleh saja terinjak dan terpenjara di tempat yang paling tersembunyi, tapi pikiran tetap akan bebas, sebebas-bebasnya. Dia – pikiran itu—akan tetap mengembara kemana dia suka. Mungkin akan dicerca, dihina, disiksa, tapi dia tak bisa dimatikan.
Saya tidak sedang mengajak untuk setuju dengan saya, bahkan menolak keras pun tidak jadi masalah dengan saya. Saya hanya mengajak untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Tidak lazim mungkin, tapi mengapa tidak?
Ini bukan omong kosong, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Ini adala realitas kehidupan dari dulu hingga sekarang. Fenomena ini kerap dipandang sebelah mata oleh kalangan-kalangan tetentu, padahal jika mereka bersedia menelisik kedalaman makna, mereka akan menemukan sesuatu yang besar yang sanggup dijadikan perenungan, permenungan serta refleksi terhadap realitas yang ada. Mereka tidak akan menganggap bahwa kata-kata ini bukan sebuah kata bualan yang terpancar dari mulut seorang radikal ateistik.
Andaikan kata-kata ini benar merupakan ujaran dari seorang radikal ateistik, paling tidak mereka dapat mengambil sisi baiknya, sebab segala sesuatu yang ada pasti mengandung nilai yang dapat diambil dan dijadikan sebuah pembelajaran bagi diri pribadi. Coba, cermati serta telisik kembali ungkapan ini serta kantongi nilai-nilainya.
Ini merupakan harapan serta tantangan bagi anda semua untuk bisa menghargai kata kata atau pengujarnya agar tidak selalu berpandangan picik atau culas terhadap realitas hidup dan kehidupan yang sedang menyapa. “Tuhan telah mati!”! Ungkapan Nietzsche dalam Sabda Zaratustranya inilah yang dari zaman dahulu sampai sekarang seolah-olah menjelma sebagai virus dalam diri manusia. Virus ini terus menggerogoti logika dan perasaan manusia.
Ungkapan ini selalu dianggap sebagai virus yang mematikan yang harus segera dibumihanguskan. Padahal jika diperhatikan lebih jauh, ungkapan ini merupakan cambuk pengingat bagi mereka yang telah lalai. Cambuk bagi mereka yang selalu mengutamakan esensi dan eksistensi pribadi hingga mereka menjual, mematahkan dan bahkan membunuh eksistensi Tuhan dalam dirinya.
Ungkapan “Tuhan telah mati”mengandung nilai filosofis yang begitu dahsyat Kematian ini bukan mengarah pada kematian esensi (dzat), melainkan mengarah pada kematian eksistensi (wewenang dan perintah) Tuhan dalam diri seorang manusia.
Secara kodrati, dzat Tuhan bersifat kekal dan abadi. Keberadaanya selalu ada melampaui ruang dan waktu serta menjadi poros kehidupan. Begitu juga dengan eksistensi Tuhan. Secara kodrati eksistensi Tuhan juga bersifat kekal dan abadi, namun dalam realitasnya eksistensi inilah yang kerapa dikebiri oleh pribadi seseorang. Ia kerapa dibantai dan ditiadakan.
Bentuk pembantaian serta peniadaan eksistensi Tuhan mungkin terlihat jelas pada waktu itu, sehingga dengan seketika pula Nietzsche mengujarkan kata-kata tersebut. Pada waktu itu manusia banyak yang beralih pandangan. Mereka selalu mengejar kenikmatan duniawi yang bersifat sementara dibandingkan dengan mengabdi kepada Tuhan. Mereka menghalalkan segala cara demi kepuasan tersebut.
Mereka kerap berbuat curang, culas terhadap sesama, dan bahkan mereka kerap membuat kerusakan-kerusakan di muka bumi hanya demi kepuasan nafsiahnya semata. Di sinilah letak pembantaian dan peniadaan eksistensi Tuhan dalam diri seorang manusia. Wewenang dan perintah-Nya untuk bertaqwa dan tidak membuat kerusakan di muka bumi telah di kebiri dan ditiadakan dari dalam diri pribadinya.
Tuhan seolah tidak ada hingga mereka berbuat sewenang-wenang dan semaunya. Tidakkah telah terungkap jelas, bahwa nafsulah yang telah mengantarkan manusia berada dalam lembah kesesatan. Dialah pengantar manusia untuk berbuat ingkar kepada Tuhan. Olehnya, manusia kini telah beralih melakukan pengagungan dan pemujaan terhadap hakekat Tuhan yang sejati. Manusia telah beralih menuhankan benda-benda, harta, tahta dan lain sebagainya yang merupakan perhiasan dunia yang bersifat semu dan menipu. Orientasi hidupnya kini telah berbelok menuju kebendaan duniawi.
Masih banyak simbol-simbol lain yang merupakan bentuk pembantaian dan
pembunuhan terhadap penuhanan benda-benda keduniawian, yaitu harta, tahta dan lain sebagainya.
Lalu, masihkah “keliaran” pemikiran itu dihujat sebagai meremehkan dan kurang ajar kepada Tuhan? 

Kamis, 07 April 2011

Menjadi 'Pembunuh' TUHAN - Kegilaan Atau Kegelisahan?

JUDUL  yang  saya pakai ini, sudah barang tentu akan membawa kejutan kepada kaum “moralis” dan “rohaniwan’ yang setiap hari berkutat dengan ‘ke-Tuhan-an’ dan ‘ke-Ilahi-an’ sebagai satu-satunya kebenaran mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Tuhan, ajaran dan Kitab Suci adalah kebenaran absolute yang bahkan tak boleh dikritisi sedikit pun. Berani mengkritisi? Bersiap-siapkah dicap murtad dan menyempal.

Nietzsche dicap sebagai filsuf ‘pembunuh Tuhan’. Pasalnya, pernyataannya yang kontroversial dan melambungkan namanya kepada deretan filsuf “gila” mengatakan satu istilah latin ‘requeiem aeternam deo’ [istirahat kekal bagi Tuhan]. Artinya, Tuhan sudah mati dan beristirahat dengan nyaman dan aman serta tenang di pusaranya. Apakah filsuf asal Jerman ini sudah gila dan tidak punya pemahaman teologis yang kuat, sampai berani mengatakan begitu?

Nietzsche mungkin orang yang sangat menguasai keilmuan tentang Tuhan atau teologis. Dia lahir dari keluarga [Kristen] Lutheran yang amat –betul, amat taat. Moyang sampai kedua orangtuanya adalah petinggi-petinggi gereja yang sangat dihormati.  Bahkan Nietszche sendiri sebenarnya adalah calon pendeta sebelum menemukan belokan iman yang mengguncang keluarga dan dirinya sendiri.

Tentu saja pola pikir ini menggegerkan keluarganya yang dikenal sebagai Kristen [amat] taat. Dan gereja tempatnya bernaung pun pernah memberikan  semacam teguran atau pamerdi kepadanya. Tapi apa jawabnya? “Gereja-gerejan kan hanya menjadi makam-makam dan nisan-nisan bagi Tuhan.”

Nietzsche akhirnya memang mengakui hanya ada satu kebenaran, yaitu “tidak ada kebenaran” itu sendiri.

+++

Tidak. Saya tidak akan mengajak Anda yang membaca tulisan ini untuk menjadi “pembunuh” Tuhan seperti Nietzsche. Atau mengajak Anda mempertanyakan “kehidupan” Tuhan yang sudah “dibunuh” oleh filsuf yang aforisme-nya berjudul ‘Orang Gila’ menjadi perdebatan banyak filsuf lain, bahkan sampai saat ini. Saya juga tidak sedang menganjurkan Anda untuk “setuju” atau “menolak” gagasan-gagasannya. Biarkan pilihan itu menjadi pilihan Anda sendiri, bukan berdasar rasio dan [hanya] tulisan saya ini.

Saya membaca pemikirannya dan mengagumi keberanian seorang Nietzsche ini.  Kegilaannya pada pencarian dan kegelisahan [dimana  filsafat sangat mengagungkan kegelisahan ini] membuat menemukan banyak hal yang tak terbatas. Tapi dia menjadikan pencariannya itu sebagai sebuah kegembiraan yang membuatnya bisa “membunuh Tuhan” – menertawakan ilmu pengetahuan dan logika, menghina metafisika hingga memberikan “keraguan” kepada pemujanya.

Buat saya pribadi, kegelisahan, keraguan dan kegembiraan filsuf ini menyenangkan untuk diikuti. Saya tidak bicara dalam tataran “beriman” atau “tidak beriman” yang berlaku umum, tapi sebuah proses pendewasaan dengan logika berpikir yang linier.  Gagasannya memang kontroversial dan mengagetkan, bahkan ketika didiskusikan sampai saat ini.

Ajakannya “membunuh Tuhan” pasti bakal mengguncang iman kita. Tapi saya menyarankan –seperti sering dikatakan dosen filsafat saya—ketika membahas hal ini, letakkan Tuhan di laci meja dulu. Setelah selesai berdiskusi, ambil Tuhan dan silakan ditaruh di posisi terhormatnya lagi.

Saya tidak meminta Anda setuju, tapi saya juga tidak meminta Anda untuk tidak setuju. Ini wacana filsafat yang buat saya mendewasakan keimanan pribadi. Bagaimana dengan Anda?

[semarang, 1 november 2010, 8.36 wib – ingin selalu menggagas dialog tentang Tuhan]

Marah Kepada TUHAN? Kenapa Tidak....

GAGASAN  tentang marah kepada Tuhan mungkin terasa seperti kembali ke zaman dahulu. Tapi, psikolog Case Western Reserve University, Julie Exline mulai melihat "kemarahan pada Tuhan" dengan cara baru. 


"Banyak orang mengalami kemarahan terhadap Tuhan," jelas Exline. "Bahkan orang-orang yang sangat mencintai dan menghormati Allah dapat menjadi marah. Sama seperti orang menjadi kesal atau marah dengan orang lain, termasuk orang-orang terkasih, mereka juga bisa menjadi marah dengan Tuhan." jelas Exline seperti dimuat dalam situs psysorg.

Exline, seorang profesor di Case Western Reserve's College of Arts dan Sciences, telah meneliti kemarahan terhadap Allah selama dekade terakhir, melakukan studi dengan ratusan orang, termasuk mahasiswa, orang yang selamat dari kanker dan anggota keluarga yang dilanda duka.

Dia dan rekan-rekannya melaporkan hasil mereka dalam artikel, "Kemarahan terhadap Allah: Prediktor Sosial-kognitif, Prevalensi, dan Link dengan Penyesuaian terhadap Dukacita dan Kanker" dalam edisi baru Journal of Personality and Social Psychology.

“Kemarahan terhadap Allah sering bertepatan dengan kematian, penyakit, kecelakaan atau bencana alam. Namun kemarahan tidak terbatas pada situasi traumatik. Hal ini juga dapat muncul ketika orang mengalami kekecewaan pribadi, kegagalan, atau sakit interpersonal. Beberapa orang melihat Allah sebagai yang bertanggung jawab untuk semua hal tersebut, dan mereka menjadi marah ketika mereka beranggapan Tuhan telah kejam atau tidak peduli. Mereka mungkin berpikir bahwa telah ditinggalkan, dikhianati Allah.” kata Exline.

 Exline menulis, “Mungkin sulit bagi orang untuk mengakui kemarahan mereka terhadap Allah. Banyak orang yang malu dan tidak mau mengakui perasaan mereka,” katanya. “Secara khusus, orang-orang yang sangat religius mungkin percaya bahwa mereka harus berfokus hanya pada sisi positif dari kehidupan beragama.” tambahnya.

"Tapi agama dan spiritualitas seperti domain lain dari kehidupan, seperti pekerjaan dan hubungan," kata Exline. "Mereka membawa manfaat penting, tetapi mereka dapat membawa kesulitan juga. Kemarahan dengan Tuhan adalah salah satu perjuangan," dia menambahkan.

Menurut temuan Exline, Protestan, Afrika Amerika, dan orang tua cenderung kurang keluhkan kemarahan kepada Allah; orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan mungkin masih melabuhkan; dan kemarahan terhadap Allah adalah yang paling menyedihkan bila sering, intens, atau kronis.

Mengatasi marah pada Tuhan, katanya, mungkin memerlukan beberapa langkah-langkah yang sama yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah kemarahan lainnya.

"Orang-orang dapat mengambil manfaat dari cerminan lebih dekat pada situasi dan bagaimana mereka melihat peran Tuhan di dalamnya," papar Exline. "Misalnya, mereka mungkin menjadi kurang marah jika mereka memutuskan bahwa Tuhan tidak benar-benar bertanggung jawab atas peristiwa menjengkelkan, atau jika mereka dapat melihat bagaimana Tuhan telah membawa beberapa makna atau manfaat dari situasi yang menyakitkan." jelasnya lebih jauh.

“Orang yang merasa marah terhadap Allah juga perlu diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian. Banyak orang mengalami perlawanan yang sama,” katanya. Itu menunjukkan bahwa orang mencoba untuk terbuka dan jujur dengan Tuhan tentang kemarahan mereka, daripada menarik diri atau mencoba untuk menutupi perasaan negatif mereka. (physorg/dik)


Senin, 14 Februari 2011

Siapa Sejatinya Pemilik TUHAN?

KALAU ada saat menggelegak, mungkin sekaranglah saatnya. Emosi saya begitu luluhlantak dengan semua pemberitaan kekerasan yang terjadi belakangan ini. Perasaan sebagai manusia, porakporanda. Saya hanya bisa menulis dan mengajak untuk bergerak, karena berteriak pun sudah tak ada kuping yang mendengarnya.

Kemanusian begitu diinjak-injak oleh manusia –kalau masih pantas disebut manusia ya. Berita pembantaian, maaf bukan lagi sekadar pembunuhan biasa, jemaah Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten,  membuat saya bertanya, mimpi apa Tuhan ketika menciptakan manusia dan kemanusiaan itu.

Mereka –para penyerbu itu—merasa dirinya paling benar membela Tuhan dan sah-sah saja membantai manusia lain yang mereka anggap tidak benar dan salah. Mereka bangga menghajar lawannya sambil berteriak memuja Tuhan. Hah?

Kebenaran milik siapa? Milik ormas? Milik manusia dengan sorban putih, berjenggot dan berteriak ‘Allahu Akbar’ yang kemudian bergerak membabibuta dan menjemuruskan Tuhan sebagai ‘oknum keras kepala, manja dan lemah’ karena harus selalu dibela. Seolah-olah Tuhan tidak bisa membela dirinya sendiri sehingga harus tergantung kepada ‘pengawal-pengawal’ yang rela mati [dan matiin].

Dan belum lelah kita protes dan bertanya kepada Tuhan tentang kelakuan umatnya, ‘tuhan-tuhan’ itu sudah bergerak lagi dengan seenaknya di Temanggung, Jawa Tengah. Gereja dirusak, agama lain dihujat. Terlepas dari apapun pemicunya, kekerasan atas nama membela Tuhan ini sangat memuakkan.

Persetan dengan pembenaran kekerasan. Persetan dengan dalil agama yang dikutip sebagai hakiki yang tidak boleh diutak-atik. Pembunuhan dan kekerasan itu sah dan halal dilakukan.

Ahmadiyah itu salah, menyimpang dan harus dihancurkan [sempat beredar di Youtube, kotbah tokoh FPI yang mengesahkan kekerasan terhadap Ahmadiya]. Dimana peran pemuka agama sebagai penyejuk? Sebagai pendamai? Sebagai wakil Tuhan? Dimana negara bergerak ketika warganegaranya tersakiti dan merasa tidak aman?

Sementara masih berteriak-teriak toleransi, durjana-durjana “pemilik kebenaran” itu memilih kekerasan sebagai alat “menjilat Tuhan”. Dan mereka tetap merasa membela. Sementara Tuhan sebenarnya tidak perlu dibela, karena Dia sanggup membela dirinya sendiri.

Siapakah sejatinya pemilik Tuhan? 

Jumat, 14 Januari 2011

Seno Gumira Ajidarma : Hidup Menyempal Anak Profesor!

“AKU dijadikan apa oleh kalian?” --- pertanyaan itu muncul ketika kami menanyakan ingin disebut sebagai apa sosoknya. Dan baiklah, saya akan menempatkan Seno Gumira Ajidarma sebagai seorang manusia biasa. Bukan sebagai seniman, bukan sebagai penulis, bu­kan pula sebagai wartawan. Mengapa? Karena berbicara dengan pria kelahiran Bos­ton, 19 Juni 1958 ini, kita menemukan karakter mul­tidimensi yang tidak lazim— karakter kemanusiaan yang terlihat tidak biasa. Saya lebih suka menyebut pria berambut gondrong (yang mulai banyak memutih ini), ‘anak nakal yang pintar.’ 

Saya mewawancarai ayah satu anak ini pada suatu siang yang cukup terik di kampus tempatnya mengajar, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta [IKJ] Jakarta. Oh ya, di kampus inilah, Seno juga dinobatkan sebagai alumni fakultas sinematografi. “Saya balik kandang,” celetuknya sambil terkekeh ringan. Sembari me­nyesap kopi hitam di depannya, Seno bercerita dari angkatannya yang masuk ke IKJ, yang lulus masih bisa dihitung jari. “Mungkin sebelumnya sudah pada bekerja dan malas menyelesaikan kuliahnya,” tukas ayah fotografer Timur Angin ini kalem.  

Besar di Jogjakarta, Seno kecil sebenarnya agak “berbeda” dengan anak kecil lainnya. Saat anak lain masih berkutat dengan nangis dan disuapin, Seno malah menjadi “leader” untuk ramai-ramai menolak ikut kelas wajib paduan suara. “Sebenarnya karena saya bosan dan saya ijin untuk tidak ikut. Karena disarankan keluar kalau sudah bosan, ya sudah, saya ajak kawan-kawan yang sudah bosan juga,” kenang seniman yang juga dosen di Universitas Indonesia ini sambil terbahak ringan. Sebenarnya, Seno mengaku “trauma” ketika SD. Pasalnya, selain dirinya dianggap “biang kerok” setiap ada kekacauan di sekolah, Seno kecil selalu diposisikan sebagai mediocre, atau “golongan tengah”. 

Waktu SD, anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di Boston, Amerika Serikat, itu selalu duduk di baris tengah agak depan. ”Yang pintar duduk di belakang, yang kurang bisa menangkap pelajaran duduk di depan, sementara saya di tengah-tengah,” kenang penerima SEA Write Award 1987 ini menerawang. Repotnya, posisi itulah yang mem­buatnya tidak pernah merasa hebat. Sebaliknya, selalu merasa kurang. ”Kon­sekuensinya mahal, karena aku harus belajar keras.” Ketika ditanyakan kabar kawan-kawannya yang “pinter” karena duduk di belakang, Seno hanya terkekeh. “Rata-rata memang sukses sesuai pan­dangan orang. Tapi tidak ada yang tahu mereka siapa bukan? Meskipun mereka memilih pekerjaannya sebagai bagian dari politik identitasnya,” ucap penyuka kopi tubruk ini rada skeptis . “Hidup kita adalah proyek yang tidak ada habisnya,” celetuknya lagi, mencoba menelaah secara filosofis

Cerita menarik dari Seno adalah ketika SD orangtuanya pernah dipanggil ke sekolah gara-gara nilai agamanya: merah! “Nilai rendah saja aib, apalagi merah,” ucap­nya sambil terbahak. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluar­kan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,” tutur Seno, santai. Ketika itu semua terjadi, biasanya ibunyalah yang turun tangan. “Dia tidak pernah marah, tapi memberi wejangan yang membuat saya menurut,” kenang si “anak bandel” ini. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Keinginan itu tentu saja mengejutkan orangtuanya. Meski Seno kemudian “cuek” saja. 

Simak alasan­nya tentang hal itu. “Saya terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May.” Dan mulailah petualangan hatinya. Seno mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu moccasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profe­sor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.

Orangtuanya bukan orang sembarangan. Ayahnya, Prof. Dr. Sastroamidjojo, ada­lah ahli fisika dan guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Sedang ibunya, Poestika Kusuma Sujana [alm], adalah dokter spesialis penyakit dalam. Untuk urusan ilmu pasti, Seno harusnya tidak ada persoalan, karena mewarisi otak eksak dari orangtuanya. “Kalau diukur dari nilai pelajaran, ilmu pasti saya tidak jelek-jelek amat. Tapi percayalah, saya paling tidak suka dengan aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. Tidak menyenangkan sama sekali,” tegas mantan pemimpin redaksi majalah Jakarta-Jakarta ini lugas. Tentu jadi pertanyaan besar ketika anak profesor fisika, ternyata punya jalan hidup yang ”menyimpang” dari ekspektasi orang. “Saya dianggap menyimpang karena berbeda dengan orangtua. Apa yang salah ketika saya memutuskan berbeda?” ujarnya retoris. 

Pembedaan itu muncul ketika komu­nitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elit perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”

Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya “Pelajaran Mengarang” terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: “Manusia Kamar” (1988), “Penembak Misterius” (1993), “Saksi Mata” (l994), “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (1995), “Sebuah Pertanyaan untuk Cinta” (1996), “Iblis Tidak Pernah Mati” (1999). Karya lain berupa novel “Mat­inya Seorang Penari Telanjang” (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Bukunya yang berjudul “Negeri Senja” bahkan mendapat peng­hargaan tertinggi dalam dunia sastra Indonesia, Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2004. Berkat cerpennya “Saksi Mata”, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997. Buku yang terbit tahun 2007: “Kalatidha” (novel), “Linguae” (kumpulan cer­pen), dan “Sembilan Wali & Siti Jenar” (nonfiksi) ; sedangkan “Sukab VS. Ninja Burik” (komik strip di majalah Sequen, bersama Asnar Zacky), dan “Nagabumi” (cerita silat di harian Suara Merdeka, Semarang) masih terus bersambung sampai sekarang dan sudah menjadi novel [2009].

“Menulis adalah napas saya. Menulis adalah belajar tentang kebebasan. Saya boleh tidak bekerja apa saja, tapi tidak dengan menulis!” tegas pria yang menolak ketika obrolan mulai masuk ke ranah keluarga. “Kita bicara topik yang lain saja,” tegas pria yang menikahi Ikke Susilowati, ketika berumur 19 tahun. Seno mulai menulis di SMA, tahun 1974. ”Aku mewajibkan diriku menulis karena aku suka membaca,” lanjut­nya. Ia hidup dari menulis, meski tak bercita-cita menjadi penulis. ”Aku hanya terobsesi menguasai tulisan,” katanya. Sama seperti setiap orang yang mencari identitas, Seno mengaku tidak pernah mengarahkan dirinya seperti sekarang ini. “Saya pikir tidak semua orang berpikir soal itu, karena semuanya bicara soal kemapanan, status sosial. Seolah semua memang harus begitu yang baik, di luar itu akan dilihat ber­beda,” tutur Seno lagi. Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,” kata Seno bangga. 

Tulisan pertamanya dimuat di Harian Berita Nasional [kemudian jadi Bernas] di Jogjakarta. “Lucunya, koran ini adalah koran yang tidak punya huruf T,” kenangnya terbahak. Novel pertama, dianggapnya tidak ada. Kenapa? “Karena memang menurut saya jelek sekali. Tidak pernah saya tuliskan dalam karya-karya saya. Ceritanya soal penari yang dipacari penjahat,” pungkas Seno.

Fase “pemberontakan” dimulai ketika melihat pementasan Rendra dilarang di UGM. “Saya mikir, kenapa harus dilarang, sementara di kampus-kampus lain diijinkan main. Ketika akhirnya main, saya nonton,” kenangnya. Ketika itu, Rendra membuat Perkemahan Kaum Urakan berupaya menjawab tantangan ekspresi kaum muda yang lembek ketika itu. “Dan orang tidak tahu, acara apa itu. Saya sendiri langsung tahu mau jadi apa, ketika nonton Rendra. Betul, saya ingin jadi seniman,” tegas pengagum pengarang R.A. Kosasih ini. Hal itulah yang juga membuatnya memilih teater ketika SMA. “Saya makin paham klise-klise berkesenian. Saya bela­jar tentang bagaimana manusia harus berkepribadian dari teater,” tukasnya. Kisah menarik berteater adalah sudah latihan selama 2 tahun lebih, tapi peran yang [pernah] dimainkannya hanya sekali numpang lewat. “Ketika itu saya hanya sekali muncul di panggung ketika teater saya mementaskan Frederico Gar­cia Lorca,” kenangnya sembari ngakak. 

Dulu ia ingin jadi seniman ”biasa” yang bisa merasa bahagia dengan apa adanya. Ia merasa sudah mencapainya pada usia 17 tahun ketika mengikuti rombongan Teater Alam. Pada usia 19 tahun ia sudah bekerja di koran sehingga berani menikahi Ike. Pada usia 20 tahun, Timur Angin—yang kini berprofesi sebagai fotografer, lulusan Institut Kesenian Jakarta, tempat ayahnya menyele­saikan S-1-nya di bidang film—lahir. “Ketika sudah punya anak, upacara dalam hidup sudah saya tuntaskan, dan saya tidak punya target apa-apa lagi,” tegasnya.

Orangtuanya mungkin “jengkel” ketika Seno kecil kerap berulah yang mem­buat mereka mengelus dada. Sekarang, harusnya mereka akan berbangga. Meski tidak ada hubungan­nya dengan eksakta, Seno membukti­kan diri punya otak yang cukup bagus. S1-nya diambil dari Sinematografi IKJ Jakarta. Kegelisahan membawanya pada pencarian S2 di Jurusan Filsafat Universitas Indonesia. Selesai? Ternyata tidak, karena cerita Panji Tengkorak “sukses” membuatnya tertarik masuk kelas doktoral. Ia menyelesaikan S-3-nya dalam de­lapan semester diselingi proses kreatifnya melahirkan tiga novel—salah satu novelnya, “Negeri Senja”, mendapat Khatulistiwa Literary Award 2004—dua naskah drama, skenario, dan puluhan cerita pendek, kolom, esai yang dimuat di berbagai media. Ia masih bisa melakukan kegiatan yang ia gemari: memotret, bahkan sempat pameran karena ada teman yang memintanya. “Karena sering menulis cerpen, aku dikira sebagai cerpenis, he..he..he.”

Meski terlihat makin tua, tapi kata seorang kawan wartawan, Seno Gumira Ajidarma justru terlihat makin maskulin dan mempesona. Kalau disinggung soal itu, Seno hanya terkekeh saja. Gaya hidupnya yang serba lepas—konon—berimbas pula pada pola pendidikan anaknya. Timur Angin, fotografer yang cukup terkenal di In­donesia, adalah intimasi dirinya sendiri ketika muda. Meski mengaku jarang ketemu dan ngobrol, “karena dia sudah punya kehidupan sendiri,” kata Seno, tapi naluri sebagai ayah membuatnya tampak bangga dengan pencapaian anaknya. Dan kami meninggalkan pria gondrong yang bercelana jeans, kaos oblong biru, dengan gaya bicara sakpenake [seenaknya –red] ini di deretan poster film di dekat ruangan­nya di IKJ.

foto: m.i. mappasenge