Minggu, 22 September 2013

Aku Cemburu, dan Aku Terbunuh Pelan-Pelan


Pernah merasakan cemburu? Entah kepada saudara, orangtua, atau pasangan kita mungkin? Rasanya macem-macem deh. Kadang marah yang benar-benar marah, sesekali mencari tahu siapa yang membuat kita cemburu, atau malah menjadi cemburu buta alias marah-marah tidak jelas karena perasaan yang berlebihan kepada pasangan kita.





BANYAK yang mengatakan, kalau cemburu itu bumbunya orang bercinta, rempah-rempah pedas dalam sebuah hubungan. Cinta tanpa cemburu –katanya—seperti sayur tanpa garam, lempeng saja rasanya. Banyak orang bilang cemburu adalah tanda atau bukti cinta. Katanya semakin besar rasa cintanya, semakin besar pula efek cemburunya. Selain tanda cinta, cemburu juga sering jadi pembenaran perilaku yang menyakiti. Benarkah begitu?



Dalam beberapa literatur bahasa, kata “cemburu” sama sekali tidak punya makna positif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cemburu itu “keirihatian, kesirikan, kecurigaan, kekurangpercayaan.” Masih belum lengkap? Oke, saya tambahkan dari dictionary.com: “cemburu adalah ketakutan, kecurigaan akan adanya ancaman, persaingan, ketidaksetiaan.” Kalau masih belum percaya juga, silakan buka beberapa kamus lain, untuk lebih meyakinkan Anda.



Saya ingin mengatakan, dimana unsur cinta dalam cemburu itu? Apakah ketika kita ketakutan, curiga, irihati, tidak setia, itu bagian dari kolam cinta yang menyenangkan? Saya sih bilang tidak!



Saya pernah merasakan “ketidaksehatan” soal cemburu ini. Ketika menjalin hubungan dengan seseorang, saya merasakan ketakutan kalau pasangan saya berpaling, saya merasakan kecurigaan kalau pasangan saya berselingkuh, saya merasakan orang lain yang dekat dengan pasangan saya adalah ancaman terhadap hubungan saya.  Semua hal yang tidak menyenangkan itu, saya rasakan hingga membuat saya merasa seperti “tembok ratapan” yang tiap hari dikunjungi tangisan dan kekuatiran.



Dalam  salah  tulisan dari Lexedeprasis tentang cemburu,  dituliskannya:  Ada 3 fase lengkap dari pola cemburu dalam hubungan cinta : 1. menutup diri, 2. menutup asset, dan 3. menyerang. Tidak ada satupun fase yang sehat, itu artinya tidak ada cemburu yang sehat. Cemburu pasti dan selalu merusak. Cemburu tidak bikin Anda lebih sayang atau  cinta, karena justru menyabotase, melemahkan, mengerdilkan kemampuan kita untuk mencintai. Cemburu bersumber dari rasa takut, dan rasa takut adalah pembunuh nomor 1 dalam hubungan cinta. 



Dan ternyata, kita lebih suka “terbunuh pelan-pelan” dengan cemburu itu, termasuk saya….


Jumat, 19 Juli 2013

Yuk, Belajar Melibatkan Mata Batin

BELAJAR melihat yang tidak tampak, --tidak ada hubungannya dengan lelembut ya—ternyata bukan perkara mudah. Ini bicara soal penghakiman kita atas orang lain, yang keluar dari mulut kita karena melihat apa yang tampak di permukaan saja. Saya terus-menerus menjadi “murid” untuk tahu bagaimana seharusnya melihat, mengapresiasi, mungkin menghakimi, orang lain, tapi tetap mencoba cari tahu bagaiman kehidupan yang tidak tampak oleh kita.

Melihat apa yang tampak apa adanya untuk sekarang ini menjadi sangat lumrah. Orang mulai lupa tentang melihat jauh kedalam hati sanubari seseorang. Wajar memang, penampilan luar adalah yang nampak untuk dinilai awal pertama kali mengenal seseorang. Bagaimanapun juga penampilan luar menjadi mudah untuk kita nilai karena ini kelihatan untuk bisa lebih mudah ditebak. Melihat penampilan luar, kemudian menjai hakim atas perilakunya yang tidak kita setuju, rasanya sudah jamak dilakukan manusia.

Tapi bagaimana kalau saya mengajak, kita menjadi manusia baru yang bisa memperhatikan sikap, perilaku, dan pemikiran seseorang yang ingin kita “hakimi” dengan lebih jernih. Bagaimana kita melihat orang yang hobinya minjem duit terus, tapi perspekstif psikologinya? Bagaimana kita melihat kawan kita yang hobinya main perempuan, dari sisi karakter dan kisah hidupnya? Atau bagaimana kalau kita melihat kawan kita yang gengsi untuk mengakui kekurangannya, dengan melihat perjalanan hidupnya?

Saya pernah “iseng” ingin melihat reaksi orang lain, jika saya terlihat urakan, ugal-ugalan, dan sedikit rock n’roll. Suatu ketika saya ingin menjual kalung dengan permata ke salah satu toko emas terkenal di salah satu mall besar di Jakarta. Saya memakai kaos bergambar tengkorak, bertuliskan nama band metal favorit saya. Kemudian celana jeans yang sudah sobek di dengkul, dan sepatu converse yang sudah butut. Ketika saya masuk, outletnya sedang sepi. Beberapa karyawannya sedang ngobrol di pojok ruangan. Kedatangan saya tidak disambut layaknya customer. Ketika saya melihat-lihat pun, mereka masih cuek hanya melirik. Baru ketika saya mengeluarkan anting permata dengan sertifikat resmi yang ingin saya jual, mereka beringsut ramah dan baik hati.

Itu sekadar contoh saja. Tapi hal-hal seperti itu mungkin pernah Anda alami dalam konteks yang berbeda. Bagaimana Anda dihakimi karena penampilan Anda yang tidak terlihat keren, rapi, ganteng, cantik atau kumuh? Saya teringat cerita masa kecil di salah satu koran di Semarang. Seorang petani, dengan memakai sarung dan kaos kumuh mondar-mandir di showroom mobil. Boro-boro bertanya, karyawannya malah memelototi petani itu dengan rasa curiga yang amat sangat. Ketika petani tersebut bertanya soal salah satu mobil, karyawannya malah ngacir. Sampai akhirnya ada salah satu karyawan perempuan yang –mungkin—kasihan, nyamperin bertanya apa keperluannya dengan ramah. Sembari menunjuk salah satu mobil, petani tersebut mengatakan: “Saya mau beli yang ini!” Sembari membuka sarungnya, petani tersebut mengatakan, “Saya mau bayar lunas sekarang,” katanya sembari memperlihat lipatan uang jutaan dalam sarungnya.

Ilustrasi lain terinspirasi dari lagu Titik Puspa, “Kupu-Kupu Malam’.  Anda yang laki-laki mungkin hanya bisa mengatakan: “Pakai, bayar, kelar!” sementara yang perempuan mungki mendamprat, “Dasar perusak rumah tangga!”. Hanya itu? Saya pernah mewawancarai seorang PSK untuk riset tulisan dan buku. Dia janda anak 1 yan sudah beranjak remaja. Suaminya meninggal dan dia harus menghidupi anak, dan orangtuanya yang miskin. Klise memang, tapi begitulah realitanya. Keluarga dan anaknya jelas tidak tahu apa yang dilakukannya. Pokoknya ada uang dan kesejahteraan.

Kisah lain muncul dalam Alkitab. Seorang pelacur yang mengalami pendarahan, berusaha menjamah jubah Yesus. Karena dia yakin, hanya dengan menjamah jubahnya, sakitnya akan sembuh. Tapi karena ditutup oleh murid-muridnya, perempua tersebut kesulitan. Apalagi orang sekelilingnya juga meremehkan perempuna tersebut karena tahu dia pelacur. Dan benar- ketika berhasil menyentuh jubah Yesus, sakitnya tersembuhkan. Kemudian Yesus menoleh dan memberkatinya.

Dari beberapa ilustrasi di atas, saya hanya ingin mengatakan, hati-hati menghakimi seseorang dengan ucapan yang mungkin menyakiti, melemahkan, atau membuat dendam dan luka batin. Jangan karena yang tampak membuat kita kesal jengkel, sebal dan benci, kita boleh mengucapkan serapah apapun kepada orang lain. Melihat dengan batin, menyadari bahwa semua manusia terlahir sama, mungkin akan membantu kita memahami seseorang. Mudah? Amat sangat tidak. Tapi bukan sesuatu yang mustahil.


Kita memiliki mata untuk melihat. Namun penglihatan kita ada batasnya. Bahkan terkadang betapa mudahnya kita tertipu oleh apa yang kita lihat. Ternyata tidak semua yang kita lihat sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Orang yang arif tidak akan melihat hanya pada apa yang terlihat. Dia melihat tidak hanya dengan mata kepalanya, tapi juga melibatkan mata hatinya.

Sabtu, 01 Juni 2013

IBU, Bahagiamu Bukanlah Matematika

“cinta seorang Ibu adalah kesabaran dan kata maaf, disaat orang-orang lain meninggalkan kita. cinta Ibu tidak pernah gagal ataupun terputus meski hatinya tersakiti. - (Helen Steiner Rice)

SALAH satu lubang kesalahan terbesar kita adalah, tidak membahagiakan ibu. Mengapa saya sebut lubang? Karena kita selalu menimbunnya dengan tumpukan kesalahan, disadari atau tidak, yang membuat ibu kita menangis, atau berlutut berdoa untuk apapun yang kita lakukan. 


Dulu saya kerap berpikir, ketika memberikan sesuatu yang berujud benda, sepeti sebuah cicilan kebahagiaan. Kasih ibu mungkin pernah kita ibaratkan seperti kredit bank yang bisa kita lunasi dalam jangka waktu tertentu. Ketika kita memberikan jam tangan, emas berlian, rumah, atau mobil mungkin, seolah kita sudah membayar tunai cintanya kepada kita.

“Ibu hanya ingin melihat kamu senang dan bahagia. Itulah kebahagiaan ibu, bukan benda-benda mahal yang tampak di depan mata,”  -- begitu kalimat singkat yang diucapkan ibu saya ketika saya “iseng” bertanya tentang bahagia di mata beliau.

Tentu saja kebahagiaan itu bukan matematika yang bisa diasumsikan dengan angka-angka, dengan jumlah kebendaan yang kasat mata, dengan deretan pundi-pundi rupiah yang berjejer di rekening.  Konsepsi kebahagiaan ibu adalah ketika anaknya menemukan apa yang diinginkan, menerima manusia lain dengan baik, dan peka terhadap lingkungan dan [mungkin] relijiusitasnya. Ada yang bisa mengalkulasi berapa “harga” dari konsepsi kebahagiaan itu?

Seorang novelis dan dramawan Perancis abad 17, HonorĂ© de Balzac, pernah mengatakan, “hati seorang Ibu adalah sebuah jurang yang dalam, yang didasarnya bisa kau temukan maaf.” Artinya, seberapapun besarnya kita melakukan kesalahan, di jurang hati ibu, selalu ada maaf. Meski kita sering menyakiti, tapi selalu terbuka pintu maaf yang tidak terbatas.

Pertanyaannya, sanggupkah kita melihat ibu kita menangisi kita, menangis kesalahan kita, menangisi  langkah-langkah gegabah yang kita lakukan? Seperti lirik lagu yang mungkin kita pernah dengar, “....di doa ibu kudenger, ada namaku disebut....”

Saya hanya ingin berbagi catatan singkat: “menjadi seorang Ibu penuh waktu adalah salah satu pekerjaan dengan bayaran tertinggi, karena bayarannya adalah cinta yang murni.” Kalau kata presiden Amerika Serikat peling terkenal, Abraham Lincoln, “atas diriku sekarang ini, maupun harapanku atas diriku, aku berutang pada Ibuku, malaikatku.”

Ibu, inilah anakmu, yang selalu ingin terus membahagiakanmu.....


Kamis, 23 Mei 2013

Amor Vincit Omnia : Jatuh Cinta Adalah Kebodohan?


Saya pernah menulis dalam sebuah status Facebook, “Sabar itu tidak ada batasnya!”. Dan ketika itu, saya mendapat repson yang bermacam-macam. Rata-rata mengatakan, bahwa kita ini manusia yang punya batas, termasuk sabar. Tapi tidak sedikit yang memberi tanda “like this” meski tampaknya mikir untuk komentar, ketimbang di-bully.

SECARA manusia, omongan saya tadi jelas menjadi perdebatan. Mana mungkin manusia punya sabar yang tak terbatas? Tanpa batas itu hanya milik Tuhan –begitu kata kawan-kawan saya yang tiba-tiba semuanya menjadi lebih relijius saat menjelaskan kata “sabar” yang saya upload itu. Mungkin kalau saya rekam, bisa jadi edisi kotbah Jumat untuk beberapa bulan [agak lebay sih  kalau ini],

Melihat reaksi spontan yang tertuang, saya menyadari kita memang manusia terbatas. Bagaimana tidak, kata-kata yang mencuat dalam komentar, semuanya menunjukkan kertidaksabaran untuk mencerna, merenungkan dan kemudian bisa berpendapat dengan jernih.

Ada yang mengatakan, “sabar = tolol” dengan asumsi, ketika kita disakiti, kita dirugikan, kita diinjak-injak, tapi masih bisa menerima orang lain yang memperlakukan kita seenaknya itu.  Saya hanya tersenyum, dan mencoba menerawang kesabaran saya sendiri untuk tidak membalas semua komentar yang tidak sabaran itu. “Bagaimana kalau kita diduakan dan kita tidak tahu, apakah harus sabar juga?” ini komen dari seorang sahat perempuan.

Jawaban saya singkat: “Iya!” dengan embel-embel layaknya rohaniwan juga, harus mendoakan tanpa henti, dan menetramkan diri sendiri, meski saya tahu itu bukan perkara yang amat mudah pastinya.

Saya harus jujur mengatakan, saya adalah “petobat baru” soal kesabaran. Saya adalah new comer soal kesabaran. Dalam istilah saya, ada yang namanya “manajemen kesabaran” yang perlu kita latih. Sekolahnya memang tidak di bangku formal, karena sekolahnya adalah sekolah kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa latin, kesabaran disebut dengan patientia.

Yang menarik perhatian saya adalah komentar yang mengatakan, “kesabaran adalah cinta”. Saya amati, mungkin saja kawan yang komentar itu sedang galau atau menye-menye, tapi tidak. Ada penjelasan serius dibawahnya. Menurutnya,  ada istilah latin yang sepadan yaitu Amor Vincit Omnia. Terjemahan bebasnya: cinta mengalahkan segalanya. Hmm, tahu apa kawan saya ini tentang cinta, lah wong sampai detik ini, dia belum punya pasangan tetap je. Cinta dan kesabaran memang sepaket.

Kalau Anda cinta dengan seseorang, silakan menjadi orang “bodoh” baru. Maaf, tidak menyalahkan yang mau jadi bodoh, karena itu resep mujarab untuk tetap bertahan dengan kekasih kita. Apa hubungannya dengan sabar? Kawan saya ini –sebutlah dengan nama Dave—selalu mengatakan, cinta justru tidak membuat makin sabar, tapi makin belajar menghadapi orang yang tidak sabaran itu. Cinta lebih sering menjadikan kita tolol, karena sabar menunggui pujaan hati keluar dengan berbagai hal yang harus dilakukan.

Dalam arti positif, cinta mengalahkan segalanya sebenarnya tepat. Mengapa? Ketika kita jatuh cinta dengan seseorang, siapapun itu, tiba-tiba kita jadi terminator yang menurut saja dicucuk hidungnya, selama yang kita cintai senang dan merasa bahagia. Meski sebenarnya tidak ada jaminan dia mencintai kita dengan porsi yang sama. Kita belajar dengan kesabaran tingkat “dewa” ketika hati dongkol tak terkira melihat pujaan hati kita terlihat “menyebalkan”. Dalam fase ini, “sabar tanpa batas” seharusnya menjadi kosakata yang rutin. Bukan sekadar cari muka ketika memberi catatan kritis.

Jangan muncul peribahasa baru: “kasihan mengalahkan cinta!” Runyam kalo begitu....

Jangan Menjadi Pelaku Stigmatisasi



Dari kecil, mungkin dari lahir ceprot, saya sudah dilabeli dengan agama tertentu yang sama dengan orangtua saya. Tentu saja saya tidak memilih suka-suka, karena memang belum sanggup untuk menentukan pilihan apapun. Jadi ketika itu, terima saja yang dilabelkan.


Ketika makin dewasa, belajar ilmu-ilmu yang ternyata tidak pasti, saya dijejalkan dengan penjelasan-penjelasan bahwa agama adalah yang sudah “disepakati” oleh negara. Ketika itu ada 5. Sudah tahu kan? Yang kini bertambah 1 jadi 6. Konghucu masuk jadi agama ke-6.

Saya kemudian jadi agak bingung ketika bicara soal klaim-klaim kebenaran mutlak, dan kemudian menafikan agama lain sebagai “ketidakbenaran” hakiki. Ketika saya kemudian makin mengritisi, mencari pembanding, mencari penjelasan tentan “kebenaran” dan “ketidakbenaran” itu, ada banyak cabang yang saya temukan. Bahkan di setiap agama yang diakui.

Kemudian cap kafir, murtad, atheis, mrosal, liberal, sekuler, nyeleneh, mungkin tidak waras mulai berseliweran ke kuping saya, ketika mempertanyakan klaim-klaim itu. Apakah stigmatisasi tersebut berhasil menyakiti saya atau tidak, sayalah yang memutuskan. Saya memiliki otonomi penuh terhadap diri saya sendiri. Bukan orang lain. Inilah rahasia mengapa saya selalu terus belajar untuk tak sakit hati dikata-katai orang lain

Bukan untuk mempengaruhi pemikiran supaya goyah, tapi sekadar berdiskusi cerdas. Sayangnya, saya belum menemukan orang yang benar-benar bisa dengan santai ngobrol soal ini. Soal apakah saya ini kafir atau tidak, sudah tergolong murtad atau tidak, adalah kavling sang Maha Hakim. Bukan orang lain yang menentukan vonisnya. Saya relatif sudah tercerahkan soal ini.

Nilai pribadi saya tak ditentukan oleh penghakiman orang. Akan tetapi oleh keseluruhan yang telah saya perbuat dalam hidup ini, baik yang tampak maupun yang tak tampak. Kalau Anda sudah melewati masa-masa “stigmatisasi” itu, berarti Anda sudah menjadi orang yang tercerahkan.

Saya selalu tersenyum dengan stigmatisasi tersebut. Karena saya ingin jadi manusia yang tidak memberika stigma juga. saya terus memilih untuk merdeka dan tak terkungkung oleh pandangan orang, oleh indoktrinasi, oleh nilai-nilai yang katanya sudah established.


Senin, 01 April 2013

Campina Concerto Bold, Kawal Positivisme Remaja

Dalam wilayah pertumbuhan manusia, menjadi remaja itu ibarat bunga. Sedang mekar, wangi dan tampak indah dipandang. Kadang-kadang dipetik kemudian dirangkai jadi satu ikatan yang amat sedap dipandang. Filosofi bunga inilah, yang disadari atau tidak, kerap dipakai produsen yan menyasar remaja sebagai target. dan terbukti, periuk remaja memang makin menggiurkan.

MAKANYA bukan tanpa alasan kalau produsen es krim terkenal, Campina, kemudian merilis varian baru Concerto Bold dengan target market remaja aktif. Menurut M.Azis, Brand Manager Campina, mereka tidak asal meyasar remaja sebagai market. "KIta selalu mempersiapkan riset setiap akan meluncurkan produk ke pasaran," jelasnya kepada wartawan dan blogger  dalam peluncuran 'Concerto Bold – Play The Hits – Singing Video Competition’ di Tee Box Jakarta, [14/3/2013] lalu.

Sedikit bicara soal produk yang diluncurkan, Concerto Bold menyorongkan dua jenis varian, Raisin dan Cookies & Cream. Dua tipe rasa yang konon memang disukai oleh remaja. Ketika penulis merasakan langsung, memang terasa berbeda karena dengan ukuran yang tidak terlalu besar, tapi gigitan sampai terakhir masih terasa.
 
Sejalan dengan tema 'My Music' yang diusung Conceto Bold, pabrikan es krim ini juga menggelar acara yang --tentu saja--menyasar remaja. Sepeti sudah disinggung di atas, kali ini mereka menggagas acara 'Concerto Bold - Play The Hits -- Singing Video Competition'. Kompetisi ini merupakan kompetisi video menyanyi di media digital yang dikhususkan untuk peserta siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) se-Indonesia.
 
Dalam event ini para peserta diharuskan untuk membuat video menyanyi lagu hits Lebih Indah dari penyanyi Adera. Nantinya, video tersebut diunggah ke situs Youtube dan kemudian didaftarkan di situs www.campinaconcerto.com.  

Untuk menegaskan posisinya sebagai kecintaan remaja, Campina menggaet idola baru, Adera, sebagai brand ikon sekaligus juri untuk event tersebut. Puluhan juta rupiah siap menanti para pemenang kompetisi ini. Tiga kategori dibedakan di sini yaitu The Bold Video-Grand Winner (Rp 45 juta untuk 3 sekolah pemenang dan Rp 15 juta untuk 1 orang pemenang). Lalu Viewer's Choice, video dengan jumlah viewer terbanyak (Rp 1 juta untuk 1 orang pemenang), dan Most Surprising Video yang merupakan video yang dipilih dan dikomentari oleh Adera dan memiliki viewers terbanyak kedua (untuk 3 pemenang @Rp 1 juta).

Jati Diri Remaja 
Dalam perbincangan dengan M Aziz, sejatinya Campina lewat produk-produknya ingin memperkuat linimasa pasar remaja dengan seabrek acara yang kreatif. "Campina banyak berkiprah dalam acara-acara yang memberi apresiasi dan ruang kreatifitas kepada remaja," jelas alumni Universitas Dipononegoro (UNIDIP) Semarang itu.
 
Sembari membeber beberapa event besar yang Campina terlibat, Azis yang terhitung baru menjadi Brand Manager melihat potensi es krim dan remaja seperti simbiosis mutualis. "Dari riset yang kita adakan, remaja memang suka banget dengan es krim. Varian-varian baru yang kita rilis juga hasil survey yang kita lakukan," jelasnya lagi.

Yang jelas, produsen apapun --termasuk Campina-- jangan hanya menjadi pemasar tapi juga harus jadi "sahabat" terbaik untuk remaja. Karena bagaimanapun, merekalah yang membuat Campinan besar. Jadi, apa salahnya kalau Campina bisa membuat mereka "besar" dengan kreatifitas. Adil bukan?

Senin, 06 Agustus 2012

per-EMPU-an


Mari “mengerti” perempuan.  Silakan cekikikan dengan ajakan saya itu. Tapi apa yang saya semburkan di atas, bukan perkara main-main dan pemikat emosional laki-laki semata. Mengapa? Karena “mengerti” yang saya tawarkan adalah sebuah wacana tentang dominasi dan subordinasi. Dan kemudian bicara soal kesepahaman.

MENGAPA  harus ada dua kelamin yang berbeda di jagat ini? Pernahkah terpikir, ketika kelamin-kelamin itu diciptakan, sang hyang widhi tak pernah mengembuskan dominasi satu kelamin atas kelamin lainnya? Kemudian atas nama kelebihan fisik, kemampuan adaptasi, dan olah raga yang lebih mumpuni, perempuan menjadi subordinasi.

Oke, mengapa saya menggunakan kata “per-empu-an”. Empu adalah istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki daya linuwih, waskita, berilmu tinggi, ahli sastra, menguasai ilmu kasampurnaning urip , dan pembuat suatu karya agung. Penyebutan istilah itu tidak hanya sekadar menyebutnya sesuai jenis kemaluannya saja, tetapi lebih tegas [dan mulia] karena menyebutnya dengan aspek esensi yang lebih manusiawi. “Mengerti” perempuan, adalah membenci dominasi satu kelamin atas kelamin lainnya. Laki atas perempuan atau sebaliknya.

Lalu apa esensinya ajakan saya itu? Begini: Ketubuhan perempuan itu sejatinya adalah milik perempuan itu sendiri, apapun kondisinya. Bahkan ketika perempuan itu sudah menikah atau memiliki pasangan, mereka –pasangannya itu—hanya berhak memiliki raga. Tapi pilihan atas tubuh dan pikirannya, seratus persen milik si perempuan itu. Belajar [mengerti] perempuan, seperti istilah yang sudah saya babar di atas, sebenarnya dalam dunia kecil kita adalah belajar dengan manusia berilmu tinggi, berdialog tentang kesempurnaan hidup dan mampu membuat karya agung. Apa karya itu? Perubahan wajah kehidupan manusia [jadi lebih baik pastinya].

Hal itu tidak bisa dilakukan saat kata bernama “dominasi”  mulai masuk dan bertahta. Tatanan kesetaraan bisa jadi terinjak-injak ketika itu terjadi. Sinergi dua kelamin ini tak harus saling melumerkan, tapi justru harus makin mengikatkan. Kata-kata klise? Memang, dan teori kesetaraan memang bukan perkara mudah seperti membersihkan ingus dari hidung.

Manusia bernama laki-laki dan perempuan dibentuk dan diberi napas, bukan untuk menjadi ranting lemah. Mereka dilahirkan ke dunia untuk memiliki keberanian. Memiliki martabat yang sama. Itu artinya menghormati kemanusiaan. Itu artinya mencintai kehidupan tanpa mengizinkan cinta itu menjadi jangkar. Itu artinya kita berjuang untuk jadi pemenang. Dan pemenang itu bukan persoalan kelamin dan dominasi, tapi kesepahaman.