Jumat, 19 Juli 2013

Yuk, Belajar Melibatkan Mata Batin

BELAJAR melihat yang tidak tampak, --tidak ada hubungannya dengan lelembut ya—ternyata bukan perkara mudah. Ini bicara soal penghakiman kita atas orang lain, yang keluar dari mulut kita karena melihat apa yang tampak di permukaan saja. Saya terus-menerus menjadi “murid” untuk tahu bagaimana seharusnya melihat, mengapresiasi, mungkin menghakimi, orang lain, tapi tetap mencoba cari tahu bagaiman kehidupan yang tidak tampak oleh kita.

Melihat apa yang tampak apa adanya untuk sekarang ini menjadi sangat lumrah. Orang mulai lupa tentang melihat jauh kedalam hati sanubari seseorang. Wajar memang, penampilan luar adalah yang nampak untuk dinilai awal pertama kali mengenal seseorang. Bagaimanapun juga penampilan luar menjadi mudah untuk kita nilai karena ini kelihatan untuk bisa lebih mudah ditebak. Melihat penampilan luar, kemudian menjai hakim atas perilakunya yang tidak kita setuju, rasanya sudah jamak dilakukan manusia.

Tapi bagaimana kalau saya mengajak, kita menjadi manusia baru yang bisa memperhatikan sikap, perilaku, dan pemikiran seseorang yang ingin kita “hakimi” dengan lebih jernih. Bagaimana kita melihat orang yang hobinya minjem duit terus, tapi perspekstif psikologinya? Bagaimana kita melihat kawan kita yang hobinya main perempuan, dari sisi karakter dan kisah hidupnya? Atau bagaimana kalau kita melihat kawan kita yang gengsi untuk mengakui kekurangannya, dengan melihat perjalanan hidupnya?

Saya pernah “iseng” ingin melihat reaksi orang lain, jika saya terlihat urakan, ugal-ugalan, dan sedikit rock n’roll. Suatu ketika saya ingin menjual kalung dengan permata ke salah satu toko emas terkenal di salah satu mall besar di Jakarta. Saya memakai kaos bergambar tengkorak, bertuliskan nama band metal favorit saya. Kemudian celana jeans yang sudah sobek di dengkul, dan sepatu converse yang sudah butut. Ketika saya masuk, outletnya sedang sepi. Beberapa karyawannya sedang ngobrol di pojok ruangan. Kedatangan saya tidak disambut layaknya customer. Ketika saya melihat-lihat pun, mereka masih cuek hanya melirik. Baru ketika saya mengeluarkan anting permata dengan sertifikat resmi yang ingin saya jual, mereka beringsut ramah dan baik hati.

Itu sekadar contoh saja. Tapi hal-hal seperti itu mungkin pernah Anda alami dalam konteks yang berbeda. Bagaimana Anda dihakimi karena penampilan Anda yang tidak terlihat keren, rapi, ganteng, cantik atau kumuh? Saya teringat cerita masa kecil di salah satu koran di Semarang. Seorang petani, dengan memakai sarung dan kaos kumuh mondar-mandir di showroom mobil. Boro-boro bertanya, karyawannya malah memelototi petani itu dengan rasa curiga yang amat sangat. Ketika petani tersebut bertanya soal salah satu mobil, karyawannya malah ngacir. Sampai akhirnya ada salah satu karyawan perempuan yang –mungkin—kasihan, nyamperin bertanya apa keperluannya dengan ramah. Sembari menunjuk salah satu mobil, petani tersebut mengatakan: “Saya mau beli yang ini!” Sembari membuka sarungnya, petani tersebut mengatakan, “Saya mau bayar lunas sekarang,” katanya sembari memperlihat lipatan uang jutaan dalam sarungnya.

Ilustrasi lain terinspirasi dari lagu Titik Puspa, “Kupu-Kupu Malam’.  Anda yang laki-laki mungkin hanya bisa mengatakan: “Pakai, bayar, kelar!” sementara yang perempuan mungki mendamprat, “Dasar perusak rumah tangga!”. Hanya itu? Saya pernah mewawancarai seorang PSK untuk riset tulisan dan buku. Dia janda anak 1 yan sudah beranjak remaja. Suaminya meninggal dan dia harus menghidupi anak, dan orangtuanya yang miskin. Klise memang, tapi begitulah realitanya. Keluarga dan anaknya jelas tidak tahu apa yang dilakukannya. Pokoknya ada uang dan kesejahteraan.

Kisah lain muncul dalam Alkitab. Seorang pelacur yang mengalami pendarahan, berusaha menjamah jubah Yesus. Karena dia yakin, hanya dengan menjamah jubahnya, sakitnya akan sembuh. Tapi karena ditutup oleh murid-muridnya, perempua tersebut kesulitan. Apalagi orang sekelilingnya juga meremehkan perempuna tersebut karena tahu dia pelacur. Dan benar- ketika berhasil menyentuh jubah Yesus, sakitnya tersembuhkan. Kemudian Yesus menoleh dan memberkatinya.

Dari beberapa ilustrasi di atas, saya hanya ingin mengatakan, hati-hati menghakimi seseorang dengan ucapan yang mungkin menyakiti, melemahkan, atau membuat dendam dan luka batin. Jangan karena yang tampak membuat kita kesal jengkel, sebal dan benci, kita boleh mengucapkan serapah apapun kepada orang lain. Melihat dengan batin, menyadari bahwa semua manusia terlahir sama, mungkin akan membantu kita memahami seseorang. Mudah? Amat sangat tidak. Tapi bukan sesuatu yang mustahil.


Kita memiliki mata untuk melihat. Namun penglihatan kita ada batasnya. Bahkan terkadang betapa mudahnya kita tertipu oleh apa yang kita lihat. Ternyata tidak semua yang kita lihat sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Orang yang arif tidak akan melihat hanya pada apa yang terlihat. Dia melihat tidak hanya dengan mata kepalanya, tapi juga melibatkan mata hatinya.