Senin, 25 November 2013

Siapa Mau Jadi "Pelempar Batu" Duluan?

Ketimbang hakim di pengadilan, kini banyak bertebaran “hakim-hakim” jalanan, yang merasa dirinya berhak menjadi hakim atas kesalahan orang lain. “Hakim-hakim” itu bermulut nyinyir dan menjaddi “tuhan” atas nama kebenaran mereka sendiri. Agama dan Tuhan, jadi “palu” untuk menjatuhkan hukuman.


SEKARANG ini, menjadi manusia adalah “kesalahan besar” menurut saya. Bukan tidak bersyukur dilahirkan sebagai makhluk paling sempurna derajatnya diantara makhluk lainnya, tapi justru karena derajat yang tinggi itulah, saya merasa “bersalah” menjadi manusia. Dalam kitab suci apapun, yang diklaim paling benar atau yang diklaim tiruan sekalipun, setiap manusia yang diciptakan, selalu dihembuskan dengan napas dan tetirah berupa sifat-sifat Tuhan. Siapa yang berani ngeyel tentang karakter Tuhan?

Tapi entah melupakan karakter itu, atau ternyata buah kuldi tentang pengetahuan yang baik dan buruk terlalu membuka mata manusia, bahwa mereka –manusia itu—bisa setara dengan Tuhan. Manusia cenderung menjadi makhluk yang mengabaikan catatan-catatan apik tentang penciptaan dan ruh Allah itu.

Kristen masuk Islam disebut sesat, Islam masuk Kristen dianggap murtad. Islam masuk Kristen dianggap bertobat, sementara Kristen masuk Islam dianggap mendapat hidayah. Begitu saja terus bolak-balik. Media ikut andil menyuburkan sektarianisme itu dengan “mengusik” persoalan keyakinan ini, dengan pihak-pihak yang pastinya senang “berkoar-koar”.  Mas, Mbak, urusan keyakinan itu, urusan personal! Bukan sekadar catatan tertulis di masjid, gereja, atau lembaga-lembaga keagamaan yang diakui. Silakan jadi public relations untuk agama masing-masing, tapi apakah orang lain tertarik atau tidak, sudah bukan urusan kita lagi.

Tapi ya sudahlah, mungkin memang “Tuhan” diciptakan oleh Tuhan lain, sehingga manusia mungkin saja dibuat oleh Tuhan yang berbeda-beda. Ya tidak heran, kalau kemudian mengklaim sebagai pemilik hakiki kebenaran karena Tuhannya memang ngomong begitu. Ini dengan asumsi, Tuhan memang ada banyak. Mungkin juga masing-masing “Tuhan” itu bersaing menciptakan manusia baik, tapi membolehkan untuk menyakiti, melukai, kalau perlu membunuh manusia ciptaan “Tuhan” lain. Mungkin loh ya...

Kita terlalu mudah menjadi “hakim” atas manusia lain, atas dasar kebenaran yang kita yakini. Kalau tidak “sama” berarti tidak benar, dan pasti salah. Saya punya banyak sahabat baik, tapi apakah mereka akan tetap menganggap saya sahabatnya kalau kemudian saya menjadi Kristen? Apakah mereka akan tetap bersahabat ketika saya memutuskan jadi Islam? Atau apakah saya tetap dianggap sebagai bagian persaudaraan, ketika saya mengatakan hanya percaya pada Tuhan, apapun agama si Tuhan itu?

Saya teringat peristiwa beberapa abad silam, ketika seorang “Manusia” dihadapkan pada pilihan sulit soal hukuman kepada pelacur yangg tertangkap massa. Mereka  ingin mengadili dengan merajam dan mungkin membunuhnya. Rakyat dan para pengikut berteriak, ”Orang ini berdosa, dia sudah mencemarkan hari suci dengan dosa percabulan yang maha berat, hukum rajam dia sampai mati”. Sang “Manusia” pusing tujuh keliling, karena manusia-manusia yang keras hati itu berbuat seolah mereka adalah Sang Maha Kuasa. Lalu Sang “Manusia” berkata dengan tenang dan lantang “Barangsiapa yang tidak berdosa, silahkan dia yang pertama kali melempar batu kepada pendosa ini”.

Siapa mau jadi “pelempar batu” duluan?