Kamis, 28 Oktober 2010

Kesombongan, Kesehatian dan Cinta, Tak Bisa Linier dan Konruen…

Apa makna sebuah kesombongan? Nyaris tidak ada selain kita berdiri mendongak, menyorongkan kepala seolah menyentuh tubir langit. Kita seolah berdiri bertangkup tangan, bersedekap, dan kemudian memicingkan mata melihat siapapun di depan kita. Yap, semuanya menjadi tidak berarti lagi, karena roh kesombongan itulah yang menguasai kita. 

Lalu, apa esensi sebuah perhatian? Kita tidak berdiri sendirian. Ada manusia lain yang terpuruk, tergantung dan mungkin terseok-seok. Kita tidak menyentuh tubir langit, tapi nyaris rebah menyentuh selaksa debu yang bertebaran. Kotor. Kita tidak bersedekap, tapi mengulurkan tangan, dan mungkin saja, terkotori dengan sebuah kehinaan manusia yang tak pernah kita bayangkan. Kita tidak menjadi diri sendiri, karena kita bergerak dalam area komunal.

Kita memang bisa membeli kesederhaan. Kita juga bisa memborong perhatian. Tapi kita tidak bisa menanyakan harga sebuah ketulusan. Kita tidak bisa menggelontorkan segudang biaya untuk sebuah persahabatan yang riil. Kita mungkin mencintai kekayaan, tapi kita tidak bisa mengasihi kesombongan. Kita mungkin bergandengan tangan dengan kemewahan, tapi percayalah, kita tidak bisa memiliki soul, heart dan  spirit sebuah cinta sejati.

Berdiam diri dan merasa memiliki dunia, bukanlah esensi sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Justru ketika kita berkalang tanah dan tidak [merasa] menjadi siapa-siapa, kita adalah siapa-siapa. Karena disaat kita sedang “kosong” itulah, kita bisa memilih “mengisinya” untuk menjadi apa dan siapa.

Seperti saat kita mencintai seseorang. Sebenarnya, saat itulah kita [harusnya] mulai mencintai “ketisaksempurnaan” dan menerima “kelemahan” yang sebelumnya tidak pernah kita sadari. Menerima kelebihan itu mudah, tapi mampukah kita bertahan ketika kelemahan itu muncul dalam kebimbangan kita? Banyak yang tumbang ketika berada di dalamnya. Salah? Kita tidak bisa menjadi hakim.

Memang, kesombongan, kesehatian dan cinta, tidak bisa selalu berada secara linier dan konruen…





MENANGISLAH - Dan Nikmati Hatimu Yang Sebenarnya

MENANGIS! Kita tidak pernah bertanya, apa korelasi air mata dengan kesedihan, kegembiraan, kemarahan atau mungkin emosi yang tak tertahan. Kok, ketika semua rasa itu terjadi, tiba-tiba air mata menetes. Ilmihanya begini, Air mata adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membersikan mata.

Kata lakrimasi juga dapat digunakan merujuk pada menangis. Emosi yang kuat juga dapat menyebabkan menangis, walaupun kembanyakan mamalia darat memiliki sistem lakrimasi untuk membiarkan mata mereka basah, manusia adalah mamalia satu-satunya yang memiliki emosi air mata.

Kemudian mengapa kita juga sering menghakimi, air mata hanya milik orang lemah. Hanya milik perempuan dan [tidak boleh] jadi milik laki-laki. Ketika laki-laki menangis, dia akan terkesan cengeng, lemah, tidak macho dan mudah dipatahkan. Tidak, dengan alasan apapun!

Dan hari ini, aku ingin menangis. Aku tidak peduli dengan anggapan menjadi lemah, pengecut atau cengeng. Persetan dengan itu semua. Aku hanya ingin benar-benar merasakan bulir-bulir air mata menetes dan hati menjadi lega. Tak serta merta selesai persoalan, tapi menangis membebaskan sedikit rasa tertekan itu.

Aku menangis untuk orang-orang yang terabaikan, teraniaya dan tak sanggup berbuat apa-apa. Aku menangis untuk kemerdekaan batin. Aku menangis untuk melepaskan keterikatan dari keterpasungan.

Andai bisa kukirimkan air mata. Pasti sudah lama kulakukannya. Semoga ia mampu bersama menjadi penguat jiwanya. Karena aku hanya seorang manusia biasa yang sering menghujam kesedihan dan terhujam air mata juga.

Dan sedetik kemudian, air mata itu menjadi belati yang tajam. Disana bersemayan kemerdekaan. Dia berdiri tegak “menikam” puruk yang nyaris terjungkal. Aku terseret gemintang yang menertawaiku. Ya, aku berjingkat, terbangun dan berdiri. Dan di ujung sana, aku berdiri dengan tangan terkepal. Dan di ujung sana, aku menembusi diri sebagai pemenang.


p.s:
untuk kamu yang menangis, tapi bukan jadi kelemahan. untuk kamu yang merasa sedang berada di ranah kesedihan, tapi bukan jadi awal kejatuhan.

Kegenitan Religius Yang Menggelikan


INI RESIKO orang dekat dengan zat pencipta. Semua seperti tampak sempurna dan mulia. Kalau  fashion bisa jadi indikasi religiusitas seseorang, mungkin kita akan makin banyak melihat seliweran orang [sebutlah kumpulan manusia], yang “tampaknya” makin religius. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan melewati jalan utama di Jakarta, saya harus berhenti karena memberi kesempatan kepada rombongan yang sedang mengalami ‘kegenitan religius’ yang menyambar di kiri kanan.

Mengapa saya sebut kegenitan religius? Karena saya melihat euphoria, saya melihat antusiasme, saya melihat permukaan, dan saya melihat [bukan] pemahaman. Bagaimana tidak, mereka melabeli dirinya dengan gamis, tapi apa yang mereka perlihatkan di jalanan, lebih mirip protokoler pejabat yang tidak bisa tersentuh. Jujur, saya justru melihat konservatisme  dengan kekakuan yang membelenggu.

Kalau pemahaman religiusitas –dalam segala bentuknya—hendak diseret dan diberhalakan pada penafsiran yang justru bertentangan dengan manfaat kepada kemanusiaan itu sendiri, atau malah kemudian menindas kemanusiaan itu sendiri, maka religiusitas yang seperti itu adalah religiusitas fosil yang tidak berguna buat kemanusiaan dan manusia. Kita harus berani meninggalkan religiusitas yang menjadi “kumpulan” dogmatisme yang menindas kemanusiaan itu sendiri.

Kita menemukan “Tuhan” dengan cara yang bermacam. Semua menganggap proses spriritualisme –kalau itu memang memberikan spirit—adalah sebuah perjalanan yang ‘akhirnya’ dirasakan untuk bertemu dengan jalan sang khalik. Apapun dan siapapun yang disebut khalik itu. Telusur panjang itu, kemudian bermuara pada keyakinan menemukan yang baik dan berguna. Lalu yang jahat menjadi tidak berguna [dan harus ditinggalkan]. Sebentar, saya ingin bertanya, siapa pencipta jahat dan baik itu?

Dalam konsepsi seorang filsuf modern, Alfred Whitehead, kebaikan dan kejahatan itu bermuara pada Tuhan yang sama.  Terdengar paradoksal mungkin, kalau pernyataannya menyebut hal itu. Paradoks ketuhanan itulah yang kemudian memancar dalam diri dan kehidupan manusia. Dalam kacamata Kristiani, disebut Imago Dei, ketika manusia diciptakan dalam citra Tuhan. Dalam pandangan Alfred, dalam diri Tuhan sebenarnya terjadi dialektika yang melibatkan peperangan ‘baik’ dan ‘buruk’. Karena memang Tuhan-lah yang sebenarnya memilik dialektika itu.

Jadi kegenitan religius itu sebenarnya amat menggelikan……

[Jakarta, 2.08 wib, 18 mei 2010]

Selasa, 26 Oktober 2010

JOGJAKARTA, Sintesa - Sinkretisme & Permisifisme

DALAM EJAAN yang benar, seharusnya ditulis Yogyakarta. Tapi entah mengapa, banyak penulis, penutur, atau pembicara yang lebih senang [dan mantap] dengan mengatakan: JOGJAKARTA. Konon lebih terasa "rohnya". Eh, pembenaran darimana lagi itu....

Sinergi Jogjakarta [mohon maaf kepada ahli bahasa -red] memang terasa sebagai satu kekuatan bagi pendatang. Kabarnya, Jogjakarta adalah daerah tujuan wisata terbesar ke-2 setelah Bali. Masuk akal, karena Jogjakarta, meski tak punya alam seindah Bali, tapi kaya dengan kekuatan budaya yang santun dan membumi.

Buat penulis, Jogja punya daya tarik yang tak pernah mati. Pulau ini kaya dengan pola sinkretisme jawa dan arab. Hebatnya, paling tidak sampai saat ini, Jogja tak pernah merasa harus terlarut dalam sinkretisme basa-basi.

Tapi kini, Jogja adalah kota yang pesolek. Sayangnya, pupur dan maskaranya masih belepotan. Kota yang pernah begitu piawai mempertontonkan keramahan mbok-mbok bakul, kini --meski masih menyisakan keramahan itu-- menjadi daerah yang makin compang-camping.

Keterbukaan budaya, ternyata tak diimbangi dengan keseimbangan untuk mengadopsi budaya baru. Alhasil jadinya Jogjakarta seperti terengah-engah mempertahankan jati dirinya.

Mencintai Jogjakarta, tak hanya mencintai budaya saja. Mencintai Jogja adalah juga mencintai sinkretisme diam-diamnya. Mencintai Jogja adalah juga mencintai masyarakatnya [khususnya anak muda] yang begitu permisif dengan hal-hal baru. Mencintai Jogja adalah juga menerima segala kebusukannya.

Dan saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Jogja adalah cinta pertama saya. Konon, cinta pertama itu sulit dilupakan. Bagi saya, das sein dan das sollen Jogjakarta adalah sintesa yang tak pernah habis, meski mungkin kelak Jogjakarta menjadi nyonya tua yang keriput sekalipun. Meski mungkin Jogjakarta tenggelam oleh abu Merapi yang saat ini sedang terbatuk-batuk parah.

AGAMA Itu CANDU [Dan Boleh Dikritisi] - 3

.....Kedua kalimat ini memaparkan, bahwa agama (dan Tuhan) merupakan produk ideologis yang dibuat oleh manusia. Namun di mata Marx, penciptaan itu memiliki segi yang agung sekaligus mengharukan. Kemudian Marx berpaling ke aspek sosial yang merupakan perhatian utamanya:

"Namun manusia bukanlah suatu makhluk yang berkedudukan di luar dunia. Manusia itu adalah dunia umat manusia, negara, masyarakat. Negara ini, masyarakat ini menghasilkan agama, sebuah kesadaran-dunia yang terbalik, karena mereka sendiri merupakan sebuah dunia terbalik."

Jika manusia melihat dunia melalui kacamata agamis yang terbalik, itu disebabkan karena manusia hidup dalam masyarakat yang timpang:

"Agama merealisasi inti manusia dengan cara fantastis karena inti manusia itu belum memiliki realitas yang nyata. Maka perjuangan melawan agama menjadi perjuangan melawan sebuah dunia nyata yang aroma jiwanya adalah agama tersebut." Kaum sosialis tidak diajak berkampanye malawan agama sebagai tugas pokok, melainkan diajak berkampanye melawan bentun-bentuk sosial yang timpang.

Tugas utama kaum Marxis adalah untuk memberantas eksploitasi dan pendindasan, dan agama juga merupakan protest terhadap penindasan itu:

"Kensengsaraan agamis mengekspresikan kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan itu. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat.

Tanpa perjuangan untuk pembebasan sosial, kritik terhadap agama adalah sia-sia bahkan negatif, karena kritik semacam itu hanya mempersulit penghiburan emosional yang sangat dibutuhkan oleh manusia:

"Kritik telah merenggut bunga-bunga imajiner dari rantai, bukanlah supaya manusia akan terus mengenakan rantai yang tak terhias dan suram itu, melainkan agar dia melepaskan rantai itu dan memetik kembang hidup."

Marx menutup teks ini dengan menhimbau agar kaum filosof meninggalkan kritik terhadap agama demi memperjuangkan perubahan sosial:

"Maka begitu dunia di luar kebenaran itu hilang, tugas ilmu sejarah adalah untuk memastikan kebenaran dunia nyata ini. Begitu bentuk suci dari keterasingan manusia telah kehilangan topengnya, maka tugas mula bagi filsafat, yang menjadi pembantu ilmu sejarah, adalah untuk mencopot topeng keterasingan dalam bentuk-bentuk yang tak suci. Sehingga kritik terhadap surga menjelma menjadi kritik terhadap alam nyata; kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik."

Sentimen ini mengulangi isi semboyan revolusioner yang dimuat dalam Tesis IX Tentang Feuerbach (tulisan Marx): "Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya".

Sepanjang perjalanan menempuh jarak ruang dan waktu itu, agama diajarkan dan diyakini oleh pemeluk sebagai sesuatu kebenaran yang hakiki. Setiap perbedaan yang ada mempunyai potensi untuk terjadinya perbedaan kepentingan dan potensi untuk terjadinya konflik horizontal. Dalam pengertian inilah timbul pertanyaan, "Agama yang mana?" yang benar atau yang bisa salah.

Memang, bicara soal agama kita tak pernah menemukan titik temu yag benar-benar pas. Tapi paling tidak dengan sharing seperti ini, kita bisa melihat sudut pandang yang lebih luas lagi. Pencerahan itu muncul dari hati, bukan otak kita...peace!

*menemukan Tuhan itu indah.....

AGAMA Itu CANDU [Dan Boleh Dikritisi] - 2

"Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu rakyat" ------ (Karl Marx in introduction to the critique of Hegel's Philosophy, Oxford University; 1981)

Beberapa hari terakhir, ungkapan Karl Marx yang sangat populer di atas serasa terus menghantui pikiran. Tentu saja, hal ini tidak otomatis berarti saya adalah pengagum berat filsafat Marx. Tapi seandainya kita bicara dalam konteks kekinian, dimana agama benar-benar menjadi "ajang-pamer- moralitas" Karl Marx bisa-bisa tertawa melihat banyak orang yang menghujkat pemikirannya itu.

Secara terminologis, definisi "Agama" itu sendiri sudah menimbulkan persoalang yang pelik. Apa yang disebut "Agama" itu ? Dan kepercayaan mana saja yang layak dikategorikan sebagai "Agama" ?

Kata Agama dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Sangsekerta ( a = tidak; gama = kacau). Secara etomologis, agama itu berarti sesuatu yang "Tidak Kacau". Banyak orang memiliki keyakinan tanpa adanya agama sama seperti juga tidak memiliki hukum, jadi dunia akan kacau, karena segalanya diperbolehkan.

Dalam kebanyakan bahasa Eropa, kata agama itu berasal dari bahasa Latin = Religio yang diserap dari kata Ligare = mengikat; sedangkan Re = lagi; jadi bisa diartikan sebagai mengikat lagi. Konon kata Religion itu berasal dari St. Agustinus. Sedangkan dalam bahasa Arab = Din yang bisa diartikan sabagai taat atau suatu kata yang mengacu kepada kepatuhan.

Pada saat pemerintahan Order Baru, agama itu di definisikan sebagai "Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa", sehingga aliran yang tidak percaya akan Tuhan ataupun Tuhan yang Maha Esa sebenarnya tidak bisa dinilai sebagai agama.

Banyak orang dengan secara gampang menyatakan bahwa semua agama itu sama, kalau kenyataannya semudah demikian, maka manusia dengan mudah bisa gunta-ganti agama, seperti juga ganti pakaian. Tetapi kenyataannya boro-boro ganti agama ganti aliran pun sudah bisa dinilai sebagai dosa besar, misalnya Kristen Katolik pindah menjadi Protestan.

Kita sering mendengar tuduhan bahwa Marxisme bertentangan dengan agama serta memusuhi orang yang taat. Bukankah Marx pernah menyebutkan agama sebagai "candu rakyat"?

Sebetulnya sikap Marx dan Lenin dalam hal ini sering disalahartikan, baik oleh orang non-sosialis maupun oleh tidak sedikit orang yang mengaku Marxis. Kritik Marx yang termasyur mengenai peranan agama dalam masyarakat sebetulnya tidak diarahkan untuk meremehkan kepercayaan manusia pada Tuhan.

Memang betul bahwa Marx, sebagai seorang filosof yang bersikap materialis, tidak percaya pada Tuhan. Namun demikian Marx sangat menaruh simpati pada rakyat biasa yang beragama. Untuk memahami sikap Marx yang sebenarnya, mari kita menyimak tulisannya "Kritik terhadap Filsafat Hukum Hegel". Di sini kita mendapati rumusan terkenal tentang "candu rakyat", tapi dalam konteks spesifik.

"Di negeri Jerman," tulisnya, "kritik terhadap agama dalam garis besar sudah lengkap". Artinya, kritik tersebut sudah diselesaikan oleh kaum filosof yang mendahului Marx (kaum "Hegelian Muda" terutama Feuerbach). Marx merangkum kritik mereka sebagai berikut:

"Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran-diri dan harga-diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri."

AGAMA Itu CANDU [Dan Boleh Dikritisi] - 1

"TUHAN telah mati, dan mayatnya terbujur di sana!" [nietszche]

DAN agama pun akhirnya menjadi satu "virus" yang membuat manusia terpecah. Dan agama pun menjadi candu yang mengharuskan orang melakukan penginjilan, pengislaman, pemurtadan, peng-mualafan dan seabrek istilah "rohani" ketika berhasil membawa "umat" lain menjadi "umatnya"

Dan agama itu candu. Manusia terpukau dengan ajaran para nabi. Yang tidak percaya dan mencoba mengkritisi akhirnya harus rela menjadi "musuh' yang kadang-kadang harus dihabisi.  Dan Tuhan yang kerap disebut-sebut dalam agama itu pun tersingkirkan. Candu agama sudah "menghisap" logika dan kemanusiaan.

Agama itu Candu. Kita terpesona dengan keindahan sorga dan ketakutan denga kebengisan neraka. Dan itu membuat kita berbuat dengan 'untung-rugi' -- "berpahala-tidak". Menjadi menjengkelkan ketika semua persoalan dan tingkah laku kita diarahkan pada persoalan sesuai dengan ajaran agama atau tidak.

Darimana datangnya agama? Apakah Tuhan menurunkan Agama? Apakah Tuhan "pelit" dan 'diskriminatif' sehingga hanya mengakui satu agama yang benar dihadapan-Nya?

Agama itu candu, karena membuat kita 'addict' dan 'high' dengan janji, harapan, dan impian-impian indah. Candulah keyakinan pada Tuhan, bukan pada agama! Jadi, singkirkan duri-duri agamamu! Memilih menjadi manusia yang berkeyakinan, mencintai, mengasihi dan menerima tanpa keinginan membuat khilafah dan kerajaan sorga di bumi.

REPUBLIK [iNi] ASU – Menjulurkan Lidah, Menggongong Tak Tentu Arah

Indonesia berduka [lagi].  Setelah dihajar dengan parodi politik yang menyebalkan di semua lini, kini murka alam kembali bermunculan. Jakarta kacau balau direndam air, setelah ditiban hujan selama 3 jam. Ternyata amat mudah membuat  Jakarta lumpuh, hanya dengan air. Lalu kemana pejabat yang berwenang itu? Nyaris tak bersuara, semua mencari aman.

Kini, gunung Merapi di Jogjakarta meletus, Mentawai digerus tsunami, Padang kembali diingatkan dengan gempa. Tapi apalagi yang dipertontonkan pejabat kita? Semua menjadi asu, menggonggong dan berteriak dengan dalil-dalil yang membuat rakyat korban makin tersiksa.

Republik ini sudah menjadi republik asu, Entah darimana asalnya pula, asu jadi kata makian. Setiap kita sebel dan marah dengan orang lain, asu-lah yang paling sering disebut, selain kampret, dan monyet. Salah apa sebenarnya si asu ini sehingga jadi sumpah serapah. Apakah, ketika sedang kita menyerampahi, kita berharap orang itu seperti asu,  menggongong, menjulurkan lidah dan menumpahkan tahi baunya? Rasanya tidak begitu. Apakah kita menyumpahi dengan si asu ini, tiba-tiba kita seperti jagoan tak terkalahkan? Rasanya juga tidak begitu.

Mari kita menilik republic asu, dimana asu-asu tak lagi menjadi hinaan, tapi menjadi pemegang kekuasaan dengan semua tingkah dan ucapan yang aneh-aneh. Marilah kita mencoba menjadi warga republic asu, dimana ketiadaan tetaplah ketiadaan, tanpa harus menjadi ada atau diadakan. Marilah menjadi warga republic asu, dimana agama dipahami sebagai kerangkeng dan dijadikan monster menakutkan bagi kemanusiaan dan kehidupan. Agama dijadikan dalil ketika bencana berdatangan.

Apakah asu-asu  itu sudah pandai bersuara lebih merdu dengan kebohongannya? Atau malah terdengar seperti bualan yang makin membabi-buta? Adakah beda antara kebohongan dan bualan? Kamus Bahasa Indonesia mencatat, berbohong berarti menyatakan sesuatu yang tidak benar. Bual artinya omong kosong; cakap besar (kesombongan). Republic Asu kini menuju yang kedua: membual, karena kebohongan dilakukan berkali-kali. Sama artinya dengan republik omong kosong, Asu yang banyak cakap menyejahterakan rakyat, tapi mempersiapkan, melaksanakan, dan mengawal pemiskinan warganya.

Di republic asu, asu-asu itu makin membabi buta, tak lagi makan serangga dan tetap mengeluarkan tahi busuk-nya! Ah, dasar asu…

[tertunduk berdoa, untuk semua korban bencana tsunami Mentawai, erupsi Gunung Merapi]

Senin, 25 Oktober 2010

Anakku, Proteslah Ayahmu Ini.....

Anakku,
Marahlah pada ayahmu ini,
Yang mengabaikan hidupmu hanya meninggalkan cinta
Yang memilih berpisah denganmu karena takut menghidupimu

Anakku,
Berteriaklah pada ayahmu ini,
Yang makin lemah menghadapi dunia yang tak ramah ini
Yang makin terpuruk ketika hidupnya terhempas

Anakku,
Proteslah pada ayahmu ini,
Yang kerap tak mengingatmu, tak ada di sakitmu
Yang memilih hanya menangis mendengar keluhkesahmu

Anakku,
Maafkan ayahmu ini, tak yang bisa memberikan kasih sayangnya dengan utuh
Yang hanya bisa memarahimu ketika tak jadi seperti yang diinginkan
Tapi, tak bisa menjadi contoh bagaimana hidup baik itu berlaku…

Tapi anakku,
Ayahmu mencintaimu sepenuhnya,
Ayahmu rela menjadi bangkai supaya kamu menjadi bunga
Ayahmu siap menjadi belulang supaya kamu menjadi pendekar perkasa
Ayahmu siap terabaikan, supaya dirimu menjadi yang terutama…

Anakku,
Inilah cintaku kepadamu…
Tak terucap kepada awan dan angin,
Hanya terhembus di telinga kecilmu,
Dan bersarang di hatimu yang lugu….

[yado, 25 oktober 2010, 11.54 wib – kiko, papa mencintai kamu amat sangat, tapi papa lemah untuk menjagamu]

Kotoran itu, Adalah AKU

Aku membusuk di tanah kotor itu,
Berkubang lumpur ditemani tikus berbau busuk itu
Disana berkumpul sampah dan tai
Semua seperti kawan seiring, bercengkerama dalam kekumuhan
Aku membusuk di tumpukan kotoran itu,
Terbuang, terabaikan dan tergilas sampah menggunung itu..
Disana semua menjadi kawan,
Karena semua benar-benar selalu dianggap kotoran
Aku kini memang kotoran…

[yado, 25 oktober 2010, 1.53 wib – yah, kini aku menjadi sampah]

Tell Me, Who Am I?

//Dia tidak punya, tapi GENGSI untuk bilang tidak punya// Dia tidak mampu, tapi GENGSI untuk bilang tidak mampu//Dia tidak tahu dan tidak ngerti, tapi GENGSI untuk bilang tidak ngerti//Dia ingin selalu tampak HEBAT di depan semua orang!// 
+++

Semua kalimat “hebat” itu tiba-tiba diucapkan oleh seseorang kepadaku. Menghentak dan tentu saja mengagetkan aku. Benar-benar mengejutkan dan membuatku terdiam. Antara keinginan untuk membantahnya dan keinginan berkaca, bertanya kepada diri sendiri, benarkah aku seperti yang ditudingkannya itu?

Pernah mengalami masa sulit dalam hidupmu? Fase itu sedang aku jalani sekarang. Aku berada di tubir jurang yang nyaris menghempaskanku. Mengapa aku bertahan, karena “dia” yang membuat aku kuat, sampai sekarang. Dia adalah orang-orang yang aku cintai dan kasihi.

Bahkan ketika fase sulit itu tak juga beranjak dari hidupku, dialah yang berada di hidupku dan selalu menyemangatiku untuk bangkit dan bergerak lagi. Jujur, fase inilah yang membuat aku “meminggirkan diri” dan “ingin menepi” dari semua yang –katanya—membesarkan nama dan hidupku selama ini. Yah, aku benar-benar ingin mengabaikan semua pencapaian yang –katanya—sudah aku capai selama ini.

Fase ini membuatku ingin “menyepi” dan tidak ingin mengenal manusia lain di area yang sama. Mengapa? Karena masa-masa sulit inilah, aku seperti terhempas dan tidak juga beranjak menjadi siapa-siapa. Dan inilah yang kemudian mengubah pandanganku, hidupku, dan caraku berelasi dengan manusia lain.

Aku menjadi seperti pesakitan, meski tak benar-benar ada yang menganggapu begitu. Aku seperti terdakwa yang benar-benar sudah dinyatakan bersalah dan siap dieksekusi. Pasrah dan tampak “menyerah” dengan alibi-alibi. Aku malu, tersisih. Tapia pa yang salah dengan pilihanku itu? Apakah merasa malu sebuah aib? Apakah merasa tersisih adalah dosa besar?

Dan aku bertanya lagi, siapakah aku? Ternyata aku tidak mengenal diriku dengan baik. Aku selalu mencoba mengenal orang lain dengan baik dan benar. Memperlakukannya dengan agung dan menyenangkan. Mencoba memahami dan mengerti mereka dengan cara-cara yang menyenangkan, tapi disisi lain aku makin kehilangan diriku. Aku makin jauh dari diriku sendiri dan makin tidak tahu aku siapa. Aku tidak tahu focus hidupku apa.

Aku makin ragu, apakah aku diciptakan dengan manfaat dan energi positif untuk orang yang aku sayangi dan cintai. Aku [kini] amat mudah menyerah dan terkulai lemah. Dan aku kembali bertanya, siapakah diriku ini sebenarnya?

+++

Seorang kawan mengatakan, tidak ada seorang pun yang bisa bertahan lama menjalin relasi dengan aku. Khususnya perempuan. Entah karena aku selalu dianggap mengagungkan gengsi dan kesombongan? Atau aku orang yang selalu ingin tampak hebat dan lebih pintar di depan orang?

Jujur, aku tidak peduli ingin seperti apa. Aku hanya ingin jadi diriku sendiri.  Yang berpikir bebas, mencintai orang yang memang pantas untuk dicintai, humanis, bergaul tanpa batasan. Persetan dengan gengsi dan kesombongan. Persetan dengan pencitraan. Aku hanya ingin mempunyai malu ketika tak bisa membuat orang lain gembira. Aku hanya ingin punya malu ketika orang terluka karena aku. Aku ingin mempunyai malu, ketika benar-benar aku tak bisa berbuat apa-apa untuk orang-orang yang aku sayangi.

Jadi, apakah aku harus mengundurkan diri dari area ini?

[stc, 8 oktober 2010, 2.06 wib + yado, 25 oktober 2010, 1.30 wib – aku ternyata benar-benar tidak mengenal diriku]

Haruskah Kutanggalkan Profesi bernama WARTAWAN?


Dulu, aku adalah orang yang bermimpi ingin menjadi wartawan yang terkenal. Terkenal karena tulisan-tulisan yang kritis dan banyak mendapat apresiasi orang. Terkenal karena punya “otak” dan wawasan yang membuat siapapun akan angkat topi.

Terkenal karena bisa memberi inspirasi banyak orang dengan tulisan-tulisan yang bagus dan bermanfaat. Selain itu impianku adalah hidup sebagai wartawan yang cukup secara materi, punya idealisme dan menjadi contoh wartawan lain.

Ya, aku berhasil menjadi wartawan yang cukup dikenal, meski tidak terkenal. Aku bisa menulis dengan bagus –paling tidak menurut pembaca tulisanku. Aku bisa berwacana dengan otak dan tidak asal njeplak. Meski aku amat sadar, diluar sana, wartawan yang lebih tangguh, cerdas dan berbobot, juga tidak sedikit.

Tapi ternyata dunia ini juga yang banyak memberiku kekecewaan. Aku banyak kawan dan relasi, tapi banyak yang hanya berdasar kepentingan karena aku wartawan. Meski tidak sedikit yang tulus dan benar-benar menjadi kawan. Dunia ini yang memberiku pilihan dalam hidupku. Tapi dunia ini pula yang menghempaskanku ke masa-masa sulit tak berkesudahan.

Ingin kutanggalkan sebutan bernama WARTAWAN itu. Ingin kutinggalkan dunia bernama jurnalistik itu. Ingin kuhapus catatan hidupku di area bernama WARTAWAN itu. Entah mengapa, sebutan wartawan makin membuatku muak dan eneg! Tapi juga ingin membuatku menangis tersedu. 

Amat kuat keinginanku untuk meninggalkan area ini. Menjadi sosok lain yang benar-benar mentah dan baru di area yang berbeda.  Atau aku hanya “menyerah” pada diriku sendiri? Entahlah, sekarang bukan saat yang indah untuk berapologi tentang pilihan-pilihan itu.

[yado, 25 oktober 2010, 1.31 wib – putus asa akut]

Rabu, 20 Oktober 2010

Seberapa INDONESIA-kah Aku? -- Catatan Kritis Nasionalisme Lewat Media Sosial

SEJUJURNYA, saya agak gelisah dengan judul di atas. Bukan karena saya tidak nasionalis, tapi justru karena saya merasa belum ‘terlalu’ nasionalislah yang membuat saya agak tersenyum dan bersemu sendiri. Yah, kalau nasionalisme dilihat dari ikut perang atau tidak, saya jelas tidak nasionalis. Karena sama sekali tidak pernah ikut perang.

Tapi kalau nasionalisme patokannya adalah spirit dan semangat ke-Indonesia-an yang tidak membabi buta, saya sih berani sombong, saya nasionalis.   Paling tidak, di era internet ini, saya bisa memberikan sedikit kebanggaan sebagai Indonesia, dalam beberapa hal yang saya kuasai. Misalnya, saya adalah “pecandu” Media Sosial yang sekarang lagi kenceng-kencengnya. Saya mencoba menunjukkan ke-Indonesia-an saya lewat hal-hal yang tidak basi, hanya slogan, tapi bisa memberi  inspirasi dan pencerahan kepada orang lain.

Apa sih hubungan media sosial dengan ke-Indonesia-an yang korelasinya dengan nasionalisme [versi saya itu]? Siapa sangkal, media sosial yang bertebaran sekarang ini menjadi satu mata rantai yang bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Mau positif ok, dibuat negatif juga tidak sedikit yang melakukannya. 

Kalau boleh saya mengutip, Wikipedia mengatakan, “Media sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.” Blog, jejaring sosial dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Saya menggunakannya untuk menulis banyak hal tentang Indonesia. Tapi pilihan saya adalah musik. Yap! Saya memang pecinta musik. Tapi saya juga suka menulis. Dan saya tentu saja mencintai Indonesia. “Trilogi Rasa” [musik, nulis dan Indonesia] – saya menyebutnya begitu—itulah yang membuat saya ingin sharing bagaimana Indonesia bisa terwakili secara imej dan kebudayaan lewat sosial media ini.  Tidak hanya komunitas lokal, tapi justru bisa mendunia juga loh.

Menurut Antony Mayfield dari iCrossing Ingggris, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Mengapa tidak kita gunakan untuk menjadi diri kita sendiri, menjadi Indonesia sendiri, menjadi bangga dengan negara kita sendiri?

Sekadar contoh, bagaimana sosial media bisa menjadi satu kekuatan nasionalisme,  ketika Malaysia “meremehkan” Indonesia beberapa waktu lalu. Twitter, Facebook, Blog, menjadi ajang “peperangan” dunia maya yang cukup dashayat. Saya tidak merekomendasikan untuk “berperang”, karena banyak postingan yang asal bunyi juga. Ketika itu terjadi, hujat menghujat, saya memilih bicara soal musik. Bagaimana seni [musik] sebenarnya bisa “menjajah” dan memberikan satu kebanggaan yang luarbiasa.

Kemudian ada gagasan Indonesiaunite oleh presenter dan MC Pandji Pragiwaksono, aktivis sosial media dan jutaan anak muda mau menggunakan atribute kebangsaan tanpa dibayar. Dengan Indonesiaunite, banyak yang mengekspose dan lewat sosial media pun banyak yang ikut terekspose dengan berita berita baik tentang Indonesia.

Kembali soal nasionalisme musikal yang saya usung lewat blog, facebook dan twitter.  Saya hanya mencoba menggagas segala sesuatu yang berhubungan dengan musik dan Indonesia. Saya menulis tentang lagu-lagu dan musisi Indonesia yang sukses di luarnegeri dengan membawa nama besar-besar, INDONESIA. Saya tidak peduli apakah penyanyi itu membawakan pop melayu, rock, dangdut atau jazz misalnya. Yang saya tahu, dia membawa nasionalisme dengan caranya sendiri. Kemudian saya membagikannya kepada semua orang lewat media sosial yang saya punya.

Saya juga menulis tentang lirik-lirik lagu yang sangat Indonesia [bahkan beberapa lagu kebangsaan negara tetangga kita, ciptaaan musisi Indonesia loh]. Bukan sekadar narsis, tapi saya juga memberi catatan kritis ketika musisi dan musik Indonesia, tidak lebih meng-Indonesia.

Semua itu saya publikasikan lewat media sosial. Saya tidak bangga kalau pengikut dan friendlist melonjak karena tulisan saya, tapi saya akan bangga ketika mereka kemudian merespon dan memberi catatan kritis kepada tulisan dan ide-ide saya di media sosial tersebut.  Tidak sekadar menghujat di jejaring sosial.

So, kalau kamu tanya bagaimana nasionalisme saya? Percaya deh saya nasionalis sejati. Tapi saya bukan nasionalis fanatik dan membabi buta. Dan media sosial amat membantu saya menyebarkan spirit nasionalisme ke-Indonesia-an saya. Bagaimana dengan kamu?

Minggu, 17 Oktober 2010

Ibu, Ingin Selalu Kupeluk Tubuh Ringkihmu

AKU menangis dan bersimpuh di kakimu,
Memohon ampunan untuk memberimu ketidakbahagiaan
Memohon maaf untuk memberimu ketidakmengertian                                                        
Memohon usap tanganmu di kepalaku, untuk memberimu beban di hari tuamu

Aku tertunduk menggenggam tanganmu keriputmu,
Menciumnya dengan buliran airmata yang tak kunjung berhenti,
Aku bersandar di bahumu,
Ingin merasakan kehangatan cinta yang tak pernah pudar dari hidupmu
Aku memeluk tubuh ringkihmu,
Dan ingin selalu berucap,

“Aku mencintaimu, Ibu…”

[yado, 16 oktober 2010, ya, aku mencintaimu ibu…]

THE HISTORIAN– Menjelajah Di Kedalaman Dunia Draculya

TIDAK banyak yang mengenal nama Elizabeth Koztova. Penulis perempuan asal Amerika ini memang belum begitu menggema seperti JK Rowling, penulis serial laris Harry Potter misalnya. Atau Stephanie Meyer dan Agatha Christie. Tapi percayalah, bakat menulisnya, berkejaran dengan nama-nama yang sudah membubung duluan itu.

Awalnya saya juga sedikit underestimate dengan nama itu. Meski bukunya ‘The Historian’ yang tebalnya mencapai 768 halaman, dikemas dengan luks, dan member kesan berkelas. Di beberapa toko buku besar di Jakarta, karya Elizabeth ini diletakkan di rak depan yang pasti membuat Anda bakal berhenti sejenak, membukanya dan [mungkin] membelinya, atau malah saking tebalnya, membuat Anda meletakkannya lagi tanpa sempat membaca.

Tapi beberapa teman, ngomporin saya untuk membelinya. Karena menurut mereka, buku Elizabeth ini bagus dan memberi kisah baru tentang sejarah. Sejarah apa, nanti kita perjelas. Dan akhirnya saya membelinya, meski kudu merogoh kocek agak dalam.

Oh ya, buku ini sebenarnya penggabungan antara fakta, fiksi dan sejarah. Dari cara bertuturnya, kita malah bisa terkecoh, karena fiksi-nya nyaris tak tampak dibalut dengan alur yang membuat kita tak ingin berhenti meneruskannya. Hmm, saya pun tak ingin ini menjadi fiksi, karena semua begitu terpampang.

Oke, mari kita bedah bukunya. Kisahnya diawali dari sebuah “kecelakaan’ kecil yang dilakukan Elizabeth di perputakaan pribadi ayahnya. Elizabeth kecil adalah anak seorang diplomat karir yang kerap berpindah-pindah penugasan ke berbagai negara. Ibunya meninggal sejak Liz kecil [hal. 13]. Kecelakaan yang mengungkap sejarah besar itu terjadi ketika dia melihat setumpuk buku tua berdebu yang tampak kurang tersentuh di lemari paling tinggi. Dan ada sebuah tulisan kusam dari leluhurnya. Apa itu?

Elizabeth yang baru berusia enambelas tahun ketika itu, tentu saja penasaran dengan kumpulan surat itu, tapi belum berani menanyakan hal itu kepada ayahnya. Hingga rasa penasaran itu terbawa sampai dirinya dewasa. Dan itulah yang menjadi esensi kisah The Historian ini. Liz kemudian menjadi seorang periset untuk mencari cerita di balik cerita dari kumpulan surat itu. Perjalan risetnya tidak hanya di negaranya saja [kemudian menetap di Inggris] tapi menjelajah sampai Istanbul [Turki], Budapest [Hongaria], Bulgaria, Amsterdam dan pedalaman Eropa Timur yang jarang masuk dalam ranah perbincangan sejarah.

Tahukah Anda, Elizabeth mencoba menjelaskan apa? Vlad! Konon, dialah cikal bakal yang disebut Dracula sekarang. Semua dokumen yang ditemukan Elizabeth membawanya pada sebuah petualangan dan pengalaman tentang kekuatan paling kelam yang pernah dikenal manusia. Liz juga detil menceritakan mengapa akhirnya Vlad diburu untuk dimusnahkan.

Hingga kita kemudian dibawa pada sebuah pertanyaan klasik, sebenarnya Dracula itu ada nggak sih? Apakah Dracula masih hidup sampai sekarang?

+++
Cara bertuturnya ringan, padahal temanya amat berat dan berhubungan dengan sejarah yang sampai sekarang pun masih terus diungkap. Hal lain yang menguntungkan pembaca adalah, cara penggambaran tempat-tempat eksotis seperti Pegunungan Alpen di Swiss, Keindahan alam di Slovenia, atau gereja-gereja tua dan kuno di Austria, dan cerita-cerita universitas-universitas di Eropa Timur yang kental dengan budaya risetnya. 

Meski di beberapa bab terkesan bertele-tele, tapi kemudian di akhir bacaan, kita akan tahu, itulah kedetilan Elizabeth dalam menggambarkan lokasi-lokasi yang disebut. Kita yang belum pernah menginjakkan kaki di Eropa pun, bakal terpukau dengan narasinya.

Tulisan fiksi dan sejarah ini, saya rekomendasikan untuk Anda. Satu-satunya kelemahan buku ini adalah ketebalannya. Sulit untuk Anda tenteng atau masuk tas yang bisa Anda buka dan baca lagi di busway atau kereta api. Kalau kelak buku-buku Elisabeth Koztova menjadi best seller, saya pasti sudah tidak akan terkejut lagi.