Sabtu, 18 September 2010

Namaku: SKEPTIS

Suatu hari, seorang kawan berkata kepada saya. “Bisa nggak jadi orang itu jangan skeptis!” Jujur, awal disebutkan, saya tidak pernah menganggap itu sebagai sebuah lelucon. Bagaimanapun, itulah penilaian orang. Tapi benarkah saya skeptis?

Apa sebenarnya skeptis itu?  Mari kita membuka wacana tentang skeptis ini. Apakah sejatinya pilihan bersikap seperti ini adalah salah, atau justru sebaliknya? Meski komparasi salah benar ini, menurut saya tidak seharusnya membuat satu perbedaan tajam. Tetap dialogis dan terbuka.

Dalam beberapa literature, ada yang menyebutkan skeptis konruen dengan peragu. Artinya, selalu ingin mempertanyakan banyak hal, sehihngga mendapat jawaban dengan argumentasi yang didukung fakta, data empiris dan. Ok, saya ambil satu definis dari Shaun & Laurence dalam Buku Profesisonal Skeptism. Menurutnya, skeptis adalah sebuah sikap yang menyeimbangkan antara sikap curiga dan sikap percaya.

Pada dasarnya manusia diciptakan untuk bisa berpikir. Berpikir kemudian bertanya untuk mendapat jawaban atas keraguan. Manusia dalah makluk yang menerima keterbukaan dan skeptisisme. Tetap terbuka terhadap ide baru tapi tetap skeptis, artinya jangan asal terima saja dan pertanyakan logikanya. Begitu caranya membedakan kebenaran mendalam (deep truths) dengan omong kosong mendalam (deep nonsense). Keterbukaan itu penting, skeptisisme juga penting, meskipun kontradiktif.

Bagi saya, mempertanyakan banyak hal, bahkan segala hal merupakan sesuatu yang lumrah. Sebagian besar orang memiliki kemampuan untuk mempertanyakan berbagai hal di sekitarnya untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Anak-anak juga mempertanyakan berbagai hal di sekitarnya. Namun harus diperhatikan, anak-anak memperoleh pengertian dan pengetahuan mengenai berbagai pertanyaannya dari orangtua dan orang-orang yang lebih tua.

Dengan demikian, yang menjadi penekanan mengenai berbagai pertanyaan yang diajukan oleh orang yang lebih dewasa adalah selalu menguji dan mempertanyakan kembali "jawaban" yang telah diterima. Inilah yang dinamakan dengan skeptisisme, yakni selalu mempertanyakan banyak hal, termasuk pendapat/pandangan yang dibuat oleh diri sendiri.

Pada dasarnya, sifat dasariah manusia adalah mempertanyakan berbagai hal. Skeptisisme merupakan hal yang sangat baik bagi setiap orang karena dengan melakukan hal itu, seseorang mampu membedakan banyak hal, seperti baik - tidak baik, benar - tidak benar, nyata - tidak nyata. Skeptisisme dapat membuat orang selalu sadar akan banyak hal termasuk dirinya sendiri.

Lalu apakah saya punya sifat skeptis? Iya. Buat saya, bertanya dan mempertanyakan, sejatinya adalah proses belajar dan pembelajaran. Tak akan pernah berhenti. Kalau itu kemudian membuat banyak yang “terganggu” berarti wacana untuk belajar, hanya muncul di satu sisi. Sayang kalau begitu.

Dan saya tahu, teman saya itu akan tersenyum….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar