Selasa, 23 November 2010

Eksekusi Pemikiranmu & Matilah Otakmu

Apa ketakutan terbesar manusia?  Ketika pemikiran dan ide-ide dimatikan! Ketika identitas diri dimampatkan! Dan ketika kekritisan dieksekusi. Matilah otak kita. Memang, berpikir kritis itu meletihkan, karena kita “terpaksa” terus-menerus bertanya kepada diri kita sendiri, menimbang berbagai hal, mempertanyakan segala sesuatu. 


Berpikir kritis itu merisaukan, karena kita tak pernah benar-benar bisa merasakan zona aman—sebab kemapanan kita pun perlu kita pertanyakan. Berpikir kritis itu, pada tahap tertentu, acap menakutkan; karena jawaban dari pertanyaan kita bisa berupa penelanjangan atas diri kita sendiri sebugil-bugilnya: apa/siapa saya sebenarnya, tanpa topeng-topeng sosial yang saya kenakan ganti-berganti setiap hari itu? Apa/siapa saya sebenarnya di hadapan manusia dan Tuhan?


Banyak para ahli yang mencoba merumuskan apa yang dimaksudkan dengan critical thinking. Salah satunya adalah menurut Halpen dalam Arief Ahmda (1996), berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran-merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. 


Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan dituju.


Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (1995: 12-15) secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu: dispositions, criteria, argument, reasoning, point of view, procedures for applying criteria. Lima perilaku yang sistematis dalam berpikir kritis, a. Keterampilan Menganalisis, b. Keterampilan Mensintesis, c. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah, d. Keterampilan Menyimpulkan, e. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai.


Kesudian berpikir kritis akan mengantar kita kepada pengenalan diri sendiri seutuhnya, tergantung sejauh mana kita mau dan berani mengenali diri sendiri: kesejatian pribadi kita, kemampuan kita, kekuatan kita, keterbatasan kita, kelemahan kita, ketololan kita, dsb. Lalu, pada gilirannya, berpikir kritis akan mengajak kita menjelajahi masalah (apa saja) yang sedang atau akan kita hadapi, sekaligus berupaya mencari jalan keluarnya secara kritis: berdasarkan fakta pengenalan kita atas diri sendiri dan kondisi nyata yang dihadapi.


Berpikir kritis akan membikin pengamalnya jadi manusia pembelajar yang tak akan berhenti mencari sepanjang hidupnya. Mencari, mempertanyakan, mempelajari segala hal; pembelajaran tak kunjung henti: Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak dijalani, kata pakde Socrates. The unexamined life is not worth living.


Nah, masihkah kita butuh segala pelatihan manajemen dan pengembangan diri itu, kalau kita sudi berpikir kritis? Baiklah kita ubah sedikit pertanyaannya: setelah mengikuti segala pelatihan manajemen dan pengembangan diri itu, lantas apa manfaatnya kalau kita masih tak sudi berpikir kritis?


Dan, ya, berpikir kritis itu bukan perkara mampu atau tak mampu, tapi soal mau atau tak mau. Bagaimana caranya? Duh, masa iya kita perlu ikut Pelatihan Berpikir Kritis, sebagai ganti/tambahan pelatihan manajemen dan pengembangan diri?  


Sumber tulisan: 
http://learningtoread.wordpress.com/
http://www.forumbebas.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar