Sabtu, 06 November 2010

Mencintaimu Seperti DERAS HUJAN

PERNAHKAH KAMU MEMPERHATIKAN hujan yang turun deras? Hujan itu tak sempat berkompromi dengan lokasi dimana dia bakal tumpah. Tak peduli apakah airnya akan menggenangi kemudian memberi limpahan banjir yang tak berkesudahan. Sungguh, hujan itu tak peduli.

Aku hanya beranalogi, tentang sebuah rasa, perasaan, asa dan [mungkin] pengharapan. Aku hanya mencoba menyelusup pada ruang batin yang tak pernah terpenjara oleh kata-kata. Disana, biasanya terangkum satu kejujuran yang menjadi puncak dari moralitas manusia. Ketika menyapa cinta, tak akan kau temui sejumput serapah. Ketika menemukan cinta, tak bakal kau temui selasar punai yang bersuara busuk.

Dalam tetralogi “Bumi Manusia"-nya Pramoedya Ananta Toer, melalui percakapan romantis tokoh utamanya kepada kekasihnya, Minke. Pram menulis;

“Cinta itu indah Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. Sungguh indah, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus menghadapi akibatnya. Lagi pula, tak ada cinta yang muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dari langit”.

Tak ada cinta yang muncul secara mendadak, ia bukan batu yang tiba-tiba saja jatuh dari langit. Bagaimanapun ia masih ada dalam variable ruang, maka kehadirannya membutuhkan sebab.

Banyak motif dan alasan mengapa laki-laki, misalnya, jatuh hati kepada seorang perempuan. Begitu sebaliknya. Jika disebutkan motif atau alasan tersebut maka yang muncul pasti beragam. Tergantung kebutuhan masing-masing orang.

Dan ilustrasi hujan itu menjelaskan kepada kita, rasa apapun itu, ternyata tak pernah dibatasi, dikerangkeng, dipenjara, ditembok, oleh apapun. Dia bisa datang dimana, kapan saja dan oleh siapa saja.

Mungkin kita bisa belajar dari sebuah diary kecil:
Mencintai angin harus menjadi suit? Mencintai air harus menjadi ricik? Mencintai gunung harus menjadi terjal? Mencintai api harus menjadi jilat? Mencintai cakrawala harus menebas jarak? 
 
 
 
Aku mencintaimu [seperti] deras hujan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar