Sabtu, 25 Desember 2010

Menggugat 'Hedonisme' Perayaan NATAL

SETIAP AGAMA dan kepercayaan, pasti memiliki saat-saat tertentu dimana keimanan memperoleh penyegaran, dan keyakinan mendapat saat introspeksi. Menarik, karena entah mengapa, momen-momen itu selalu menjadi ajang “dramatisasi” keimanan, seolah hari lain menjadi hari yang biasa-biasa saja dan tidak perlu mendapat ‘perlakuan’ yang sama.

Orang Kristen memasuki bulan Desember, selalu seolah mendapat pencerahan yang berbeda dengan hari atau bulan lain. Wajar saja, karena Desember –tepatnya tanggal 25—adalah momen dimana Yesus Kristus, saviour, lahir. Momen kelahirannya sendiri sudah sering diceritakan dalam berbagai versi. Mengapa harus disambut dengan antusias dan meriah? Banyak pembenaran yang diajukan. Padahal intinya sederhana, janji penyelamatan Allah bukan omong kosong. Nabi-nabi terpilih, ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus, berbusa-busa bernubuat. Dan momen itulah yang sebenarnya dinikmati, dirayakan, dan ditunggu.

Sayangnya, Natal –meski tanggal 25 Desember sendiri masih jadi perdebatan—makin lama makin kehilangan “rohnya.” Banyak orang Kristen yang berbalik mengkultuskan Natal. Originalitas Natal kian tergerus menjadi makna ekonomi yang kemudian berhitung untung rugi. Semua gereja, ‘bersaing’ atau malah berlomba, menjadi yang terbesar, termegah, dan termewah memperingati kelahiran juru selamat, yang ironisnya “hanya” lahir di kandang domba. Paradoksal yang keterlaluan.

Kederhanaan Kristus makin lama makin terkena erosi makna. Bahwa kelahiran Kristus harus disyukuri, itu betul. Tapi kemudian menjadi “Festival Natal” dengan bujet-bujet angka yang luarbiasa, itu yang perlu dikritisi. Natal menjadi keriaan sesaat yang kemudian terhempas begitu saja. Natal sudah menjadi “kunyahan” rutin. Kalau memang enak, telan. Kalau tidak enak, muntahkan.

Penulis tidak anti perayaan Natal. Dalam sudut pandang yang lebih luas, Natal seharusnya bisa menjadi pendobrak batas linier antara “kami” dengan “mereka”, antara “gerejaku” dan “gerejanya”, atau antara Kristen “taat” dengan Kristen “KTP” atau lebih lebar lagi antara “Kristen” atau “Non-Kristen”. Alangkah indahnya, ketika Natal bisa menjadi peristiwa sosial yang bisa dinikmati dan melibatkan semua orang dari banyak perbedaan.

Janganlah Natal hanya menjadi saluran pelepasan, setelah setahun penuh kita asik tenggelam dalam “termpurung” keagamaan kita. Mungkinkah kita melihat setiap hari raya, termasuk Natal, sebagai momen lintas kepercayaan? Mungkinkah kita melintasi kepercayaan kita, agama kita, dan menyapa orang-orang yang “bukan denominasi kita” dan datang dari latar belakang berbeda-beda?

Dalam mimpi penulis, iniah saatnya mengembalikan orisinalitas Natal. Saat yang tepat untuk mengembalikan Natal sebagai momen menguatkan spirit keinsafan [boleh disebut pertobatan] batin yang tidak dipaksakan, tidak “ditakuti” dengan pilihan sorga dan neraka semata, tapi benar-benar menjadi “mata air” dari spirit yang tidak pernah direduksi maknanya. Kalau ternyata masih sekedar hura-hura tahunan saja, sebenarnya kita makin mendangkalkan orisinilitas Natal. Pilihan Anda? Selamat Natal...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar